O. BISNIS

PENGANTAR UNTUK SEMINAR ”TINJAUAN ALKITAB & HUKUM TENTANG BISNIS”

BISNIS DAN HUKUM TUHAN

Anak Tuhan tentu saja boleh berbisnis. Namun Tuhan memberikan hukum-hukum rohani bagi orang Kristen yang hendak berbisnis. Bahkan, perintah-perintah Tuhan itu (ketentuan-ketentuan Alkitab) mengenai hal berbisnis ternyata juga menyangkut hal-hal teknis seperti berikut ini.

Perintah Tuhan untuk pengupahan karyawan (buruh) dinyatakan sebagai berikut.

  • Alkitab menyatakan, ”Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan mereka yang menyabit panenmu” (Yak 5:4).
  • Alkitab menyatakan, ”Celakalah dia yang membangun istananya berdasarkan ketidakadilan dan anjungnya berdasarkan kelaliman, yang mempekerjakan sesamanya dengan cuma-cuma dan tidak memberikan upahnya kepadanya” (Yer 22:13)
  • Dari ayat-ayat itu, menurut Larry Burkett (1997) menegaskan prinsip Alkitabiah tentang kewajiban pengupahan pada buruh/karyawan sebagai berikut (1) Tuhan tidak menghendaki semua orang dibayar dalam jumlah yang sama, (2) mereka yang melakukan pekerjaan lebih baik harus dibayar lebih besar, (3) Tuhan sangat menuntut keadilan di dalam pembayaran upah para karyawan, (4) majikan Kristen bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan minimal para karyawannya

Di dalam berbisnis, orang Kristen harus mempunyai sikap memberi sebagai wujud bakti kasih kepada Tuhan dan sesama.

  • Alkitab menyatakan, ”Berilah dan kamu akan diberi; suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Luk 6:38).

Di dalam berbisnis, orang Kristen tidak boleh ”ngemplang”, namun harus bertanggungjawab untuk membayar setiap hutangnya. Demikian juga jangan menjadi kapitalis yang memperbudak orang dengan menjeratnya dalam hutangnya kepada kita.

  • Yesus mengatakan, ”…Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas” (Luk 12:58-59)
  • Alkitab menyatakan, ”Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak yang menghutangi” (Ams 22:7). Karena itu sebisa mungkin hutang atau menghutangi dihindarkan supaya kita tidak diperbudak dan tidak memperbudak orang.
  • Alkitab menegaskan supaya kita jangan ngemplang, ”Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali, tetapi orang benar adalah pengasih dan pemurah” (Mzm 37:21). Bisnisman Kristen tidak boleh berlaku seperti orang fasik.

Dalam hal memecat karyawan (PHK), pebisnis Kristen harus menunjukkan belas kasihan meskipun bukan berarti meninggalkan profesionalisme.

  • Alkitab mengatakan, ”Orang benar memperhatikan hidup hewannya, tetapi belas kasihan orang fasik itu kejam” (Ams 12:10). Terhadap hewan yang kita pekerjakan saja kita harus memperhatikan, apalagi terhadap para karyawan. Kita harus bisa ”nguwongke” (memanusiakan) para pekerja kita.

Dalam hal menarik keuntungan dalam berbisnis, rupanya Tuhan tidak ingin kalau orang-orang Kristen melakukan praktik-praktik kapitalistik yang hedonis.

  • Alkitab menyatakan, ”Neraca serong adalah kekejian bagi Tuhan, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat” (Ams 11:1).

Pebisnis Kristen harus setia memberi persembahan dan persepuluhan kepada Tuhan

  • Alkitab menyatakan, ”Muliakanlah Tuhan dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu” (Ams 3:9).
  • Alkitab menegaskan, ”Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan” (Mal 3:10).

Pebisnis Kristen tidak boleh lalai untuk membayar pajak kepada Pemerintah

  • Yesus sendiri menekankan supaya para murid-Nya taat pada hukum, termasuk misalnya dalam hal membayar pajak (Mat 17:27).
  • Paulus juga menekankan keharusan orang Kristen membayar pajak, ”Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar, pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai” (Rom 13:7)

Pebisnis Kristen perlu menghargai para karyawannya dengan memberi mereka pensiun secara proporsional.

  • Alkitab memberi dasar tentang pensiun sebagai berikut: ”Inilah yang berlaku bagi orang Lewi: setiap orang yang berumur 25 tahun ke atas wajib bertugas, supaya ia bekerja pada Kemah Pertemuan, tetapi jika ia berumur 55 tahun ke atas haruslah ia dibebaskan dari pekerjaan itu, sehingga tak usah ia bekerja lebih lama lagi” (Ul 8:24-25). Artinya ada masa bekerja dan ada masa pensiun.
  • Di sisi lain, tekun bekerja terus sampai Tuhan datang itu juga merupakan prinsip Alkitabiah (band. Mat 24:44-46). Fakta menunjukkan bahwa faktor usia tidak selalu menghambat produktifitas. Larry Burket (1997, hal 387) memberikan laporan sebagai berikut: ”Studi terakhir yang dilakukan oleh Harvard University mendukung perspektif Alkitabiah ini. Studi ini melibatkan dua grup lulusan Harvard antara umur 65 dan 75 tahun. Grup pertama terdiri dari 100 orang pensiunan berumur 65 tahun dan grup kedua terdiri dari 100 orang pensiunan berumur 75 tahun. Dalam grup pertama, dari orang-orang yang pensiun pada umur 65 tahun, 7 dari 8 orang meninggal pada umur 75 tahun. Dalam grup kedua, orang-orang yang mencapai pensiun pada umur 65 tahun, dan terus bekerja, hanya 1 dari 7 orang yang meninggal dunia. Kesimpulan dari studi ini mengatakan bahwa pensiun atau berhenti bekerja terlalu dini (dalam batas umur) ternyata bisa mengurangi kemungkinan untuk bertahan hidup 10 tahun lagi (atau lebih) dengan faktor 6.

BISNIS DAN HUKUM SEKULER

Sistem hukum positif di masyarakat kita jelas mengatur sendi-sendi bisnis yang berkembang. Tentang besaran pajak yang wajib dibayarkan misalnya, ada aturannya sendiri. Tentang berapa besaran upah minimum yang wajib diberikan kepada para karyawan juga ada aturannya sendiri.

Sebagai warga negara, pebisnis Kristen harus mengerti dan mentaati hukum yang diberlakukan di tengah bangsa dan negara kita. Di sisi lain, hak-hak untuk bekerja dan berusaha dan seluk beluknya yang diamanatkan UUD 1945 perlu dipahami untuk mengerti peluang-peluang apa saja yang ada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: