N. WANITA

PENGANTAR UNTUK SEMINAR ”TINJAUAN ALKITAB & HUKUM TENTANG MASALAH WANITA”

STATUS DAN PERAN WANITA DALAM KELUARGA

Firman Tuhan dengan jelas mengatur masalah kedudukan (status) dan peran (role) wanita dalam kehidupan berkeluarga

  • Mendukung dan tunduk kepada suami, melayani suami (Ef 5:22-24).
  • Melahirkan dan membesarkan anak sebagaimana kodratnya (band. Kej 3:16)

Status dan peran itu berkaitan dengan ketetapan Tuhan mengenai status dan peran untuk suami sebagai berikut:

  • Menjadi kepala keluarga, pemimpin bagi istri dan anak-anaknya (Ef 5:22-24). Hal itu berarti seorang suami menjadi pemimpin dalam hal rohani dan kehidupan.
  • Mengayomi dan menghidupi istri dan anak-anaknya (1 Tim 3:12). Termasuk bekerja atau mencari rezeki (band. Kej 3:17-18)
  • Mengasihi istri seperti Yesus mengasihi jemaat (Ef 5:25-30). Ini menjadi dasar tidak boleh terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Ini juga menjadi dasar untuk memberi penghargaan kepada kaum perempuan. Bahwa kepemimpinan  kaum pria tidak berarti peminggiran terhadap kaum wanita.

STATUS DAN PERAN WAKITA DALAM PELAYANAN

Alkitab menegaskan tentang penegakan struktur illahi di dalam sebuah keluarga Kristen. Paulus menegaskan bahwa suami (ayah) adalah kepala (imam) dalam keluarga: “Hai istri tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu” (Ef 5:22-24).

Implikasinya, di dalam pelayanan – menurut beberapa penafsir – seorang wanita tidak boleh menjadi pemimpin sebab hal itu akan melanggar aturan struktur illahi tersebut. Paulus sendiri juga mengatakan demikian, yaitu pemimpin jemaat haruslah seorang pria/suami (1 Tim 3:3, 4 – seorang suami dari satu istri, seorang kepala keluarga; 1 Tim 3:12 – diaken haruslah suami dari satu istri….).

Keluarga menjadi satu unit pelayanan, suami istri menjadi pasangan hamba Tuhan

Seorang wanita (istri) bisa dipakai Tuhan secara luar biasa dengan peng-cover-an suaminya. Hal itu terlihat dari bagaimana Maria menjadi hamba Tuhan dengan tugas yang sangat besar, yaitu melahirkan dan membesarkan Sang Mesias. Di dalam ”pelayanan” itu, Maria tidak sendirian, tetapi menjalaninua dengan peng-cover-an sang suami, Yusuf. Supaya, dengan pengayoman suami itu, struktur illahi tidak dilanggar.

ISU-ISU SEPUTAR WANITA: PERGOLAKAN DALAM MASYARAKAT

Dunia mempersoalkan isu-isu soal wanita dan mencoba membenahi keadaan dengan merefomasi hukum.

Masalah pelanggaran HAM atas wanita (istri) dalam kehidupan berumahtangga yang kini dikenal dengan istilah Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Kini kaum wanita mendapat perlindungan hukum, beberapa undang-undang menjamin HAM mereka. Para istri juga bisa memperkarakan suaminya yang bertindak jahat padanya. Namun, dalam kehidupan Kristen, masalah KDRT dan sejenisnya bukan sekedar masalah memperjuangkan hak wanita, tetapi masalah memulihkan hubungan dalam keluarga. Jika struktur illahi keluarga Kristen dibenahi maka niscaya tidak ada pelanggaran HAM atas kaum perempuan.

Dalam kehidupan bermasyarakat dewasa ini, keadilan merupakan isu pokok dalam perjuangan kaum wanita. Karena, sejarah dan fakta menunjukkan adanya perlakuan tidak adil oleh kaum pria terhadap kaum wanita. Kebudayaan tradisional menjadikan wanita sebagai orang nomor dua. Dulu di Jawa, wanita dianggap hanya sebagai konco wingking yang berarti hanya mengurusi urusan dapur, anak, dan ‘kamar tidur’. Di Jepang pada masa silam, kata “istri” berarti “di dalam rumah saja” (Naisbitt, 1990). Karena itulah perjuangan feminisme berpusat pada masalah-masalah seperti keadilan dan kesetaraan gender, emansipasi wanita, dan kepemimpinan kaum wanita. Perjuangan di bidang social, politik, dan hukum juga bertolak dari idealisme itu.

PERJUANGAN POLITIK KAUM PEREMPUAN (cuplikan artikel opini Haryadi Baskoro berjudul “80 Tahun Pegerakan Perempuan Indonesia” yang dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat edisi 22 Desember 2008 – also see www.haryadibaskoro.wordpress.com dan www.harihariperingatan.wordpress.com)

Dari kilas balik sejarah, dapat disimpulkan bahwa gerakan perempuan di Indonesia sekarang sebenarnya mewarisi dua semangat yang utama. Pertama, semangat emansipasi. Ini terinspirasi dari kiprah seorang pahlawan emansipasi wanita, Kartini, yang hari kelahirannya pada tanggal 21 April 1879 diperingati sebagai ”Hari Kartini”. Kedua, semangat pergerakan nasional dan politik. Ini terinspirasi dari gerakan organisasi-organisasi wanita yang pada tanggal 22 Desember 1928 mengadakan Konggres Perempuan Indonesia, yang tanggal itu kemudian dijadikan sebagai peringatan ”Hari Ibu”. Artinya, wanita Indonesia mempunyai referensi yang sangat kuat untuk melancarkan emansipasi dan memotivasi diri untuk terjun di kancah politik nasional.

Kini, 104 tahun setelah Kartini meninggal pada tahun 1904, emansipasi wanita di Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang sangat signifikan. Perempuan-perempuan Indonesia tidak lagi terbelakang. Mereka bukan lagi menjadi ”konco wingking”, namun menjadi tokoh-tokoh berpendidikan tinggi, berkarir sukses, dan berpengaruh besar dalam masyarakat. Ekualitas gender di Indonesia dan penghargaan atas martabat kaum wanita semakin berkembang membaik.

Namun, 80 tahun setelah Konggres Perempuan Indonesia digelar pada tanggal 22 Desember 1928, keterlibatan wanita Indonesia di kancah politik dan pergerakan nasional masih belum maksimal. Keterwakilan kaum wanita di parlemen misalnya, masih kecil. Karena itu, banyak aktifis wanita mendesak diadakannya suatu tindakan khusus sementara (affirmative action) berupa kuota 30% perempuan dalam kepengurusan partai politik dan lembaga dewan perwakilan rakyat dari tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Menjelang Pemilu 2009, kelompok-kelompok perempuan memperjuangkan kebijakan itu melalui lobi-lobi kepada fraksi-fraksi di DPR.

Sejauh ini, keterwakilan kaum wanita Indonesia di parlemen masih rendah dibanding dengan di negara-negara lain di Asia. Vietnam tertinggi (27,3%), disusul Pakistan (21,6), Filipina (17,8), dan Malaysia (10,5). Namun, Indonesia (8,8% pada Pemilu 1999), masih lebih baik daripada Sri Lanka (4,4%) dan Bangladesh (2,0%). Menurut Ani Sutjipto yang bekerja pada CETRO (Center for Electoral Reform), affirmative action sangat penting untuk membuka peluang bagi kaum perempuan yang selama ini termarjinalkan supaya dapat terintegrasi dalam kehidupan publik secara adil (Jurnal Perempuan No 34, tahun 2004).

Dalam hal kemajuan pergerakan perempuan, keterlibatan wanita dalam politik, dan keterwakilan wanita dalam parlemen, kita perlu belajar banyak dari Swedia dan India. Perjuangan di Swedia memang sudah lama. Pada tahun 1884 sudah ada diskusi tentang hak pilih dan kemungkinan wanita duduk di parlemen. Pelopor pejuang hak politik kaum wanita Swedia ternyata justru seorang pria bernama Fredrik Borg. Pada tahun 1970, kuota perempuan dalam parlemen Swedia adalah 10%. Pada Pemilu 1988, 131 orang dari 349 anggota parlemen Swedia adalah perempuan (38%). Pada tahun 2002, naik menjadi 45%, berarti lebih tinggi dibanding di Amerika Serikat dan Inggris. Kini, hampir 50% menteri di Swedia adalah wanita. Bahkan, Menteri Pertahanan pun adalah seorang perempuan. Keterlibatan aktif kaum wanita di kancah politik terbukti meningkatkan kesejahteraan dan keadilan gender di negeri feminis tersebut.

India juga masih lebih maju ketimbang Indonesia. Kaum wanita memperjuangkan hak-hak politik mereka melalui jalur konstitusi. Kita perlu meniru, sebab di India sudah berkembang perundang-undangan yang secara sangat tegas menjamin hak-hak kaum wanita dan mendorong keterlibatannya dalam politik nasional. Pada tahun 1976 berdiri komite khusus untuk wanita (Committee on the Status of Women in India) yang memperjuangkan keadilan sosial-ekonomi kaum wanita dan keterwakilan perempuan dalam lembaga-lembaga politik. Pada tahun 1988, visi mereka diakomodir oleh Pemerintah dan diimplementasikan dalam Perencanaan Nasional untuk Perempuan (National Perspective Plan for Woman). Sementara itu, Amandemen Undang-undang Dasar India pada tahun 1993 menyertakan jaminan untuk kuota 30% perempuan dalam lembaga-lembaga pemilihan publik.

PEMULIHAN KRISTEN VS PEMULIHAN DUNIA

Orang dunia mengharapkan reformasi humanistik yang mengangkat derajad kaum wanita. Namun inti perjuangan mereka berbeda dengan cara pandang iman Kristen. Dunia memperjuangkan nasib kaum perempuan dalam rangka memajukan

  • HAM, hak asasi manusia
  • Tata kehidupan yang berkeadilan gender
  • Tata kehidupan dengan kesetaraan gender (egalitarian gender)
  • Tata kehidupan yang memungkinkan berkembangnya kepemimpinan bahkan dominasi kekuasaan kaum perempuan

Sedangkan pemulihan kehidupan wanita menurut Firman Tuhan dasarnya adalah pemulihan kehendak dan rencana Tuhan atas kehidupan manusia, bukan bertolak dari masalah perseteruan gender. Pemulihan kaum wanita dikerjakan dalam rangka

  • Pemulihan struktur illahi di mana terjadi sinergi antara kaum pria dan wanita
  • Pemulihan keluarga dengan dasar struktur illahi itu
  • Aktualisasi kaum wanita dalam pelayanan dengan kerangka struktur illahi itu
  • Pemulihan hubungan kasih berdasar kodrat dan struktur illahi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: