J. ORGANISASI KRISTEN

PENGANTAR UNTUK SEMINAR “TINJAUAN ALKITAB DAN HUKUM TENTANG ORGANISASI KRISTEN”

ORGANISASI KRISTEN

Alkitab memberi landasan bagi anak-anak Tuhan untuk berorganisasi. Konsep tentang Tubuh Kristus menjadi dasar bagi pengembangan sistem-sistem. Konsep tentang karunia-karunia menjadi dasar untuk pembanguan kerja. Sedangkan konsep tentang jawatan-jawatan rohani menjadi dasar bagi pembentukan sistem kepemimpinan.

Sementara itu, keberadaan dan perkembangan organisasi keagamaan di tengah masyarakat tentunya diatur oleh sistem peraturan tersendiri. Dalam hal inilah kita harus paham, misalnya tentang masalah hukum yayasan atau perkumpulan atau bentuk organisasi lainnya. Bagaimana mendapatkan ijin, membuat akta, semua harus memperhatikan hukum yang ada.

Membangun organisasi Kristen dengan mengikuti peraturan yang ada juga penting dalam rangka menjalani kewajiban hukum. Misalnya dalam hal membayar pajak. Adalah perintah Tuhan untuk orang Kristen taat membayar pajak. Kecuali itu, organisasi-organisasi Kristen janganlah dicap sebagai kelompok-kelompok liar di dalam masyarakat.

Kejelasan legalitas dalam berorganasi juga bermanfaat bagi perkembangan kita sendiri. Pihak-pihak donatur dan sponsor dari dalam dan luar negeri akan mempercayai kredibilitas kita. Kejelasan legalitas juga mempermudah pengembangan jejaring, baik dengan sesama organisasi Kristen maupun berbagai organisasi lintas agama.

Organisasi-organisasi Kristen yang legal juga akan menjadi modal sosial untuk penguatan masyarakat sipil di negeri ini. Eksistensi kekristenan terangkat dan pilar-pilar keberagaman dalam kekuatan-kekuatan sosial di masyarakat juga terbangun. Dengan demikian kita memberi kontribusi bagi pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara.

MENYELESAIKAN KONFLIK INTERNAL

Hal yang sering terjadi – dan sangat memprihatinkan serta memalukan – adalah konflik internal di dalam organisasi-organisasi Kristen itu sendiri. Ada kasus para pemimpin suatu organisasi Kristen bertengkar, berkelahi, rebutan uang, dan sebagainya. Sangat memalukan! Lebih memalukan lagi adalah apabila kita membawa masalah-masalah konflik internal itu ke pengadilan umum. Masyarakat menjadi tahu bahwa ternyata kita sendiri bobrok. Kita gagal menjadi garam dan terang. Kita bahkan menjadi model kebobrokan. Padahal seharusnya anak Tuhan menjadi teladan!

Mengenai masalah seperti itu, Paulus memberi nasihat sebagai berikut: ”Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus? Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada di dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti? Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari. Sekalipun demikian, jika kamu harus mengurus perkara-perkara biasa, kamu menyerahkan urusan itu kepada mereka yang tidak berarti dalam jemaat? Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara dari saudara-saudaranya? Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya?” (1 Kor 6:1-6)

Dari ayat-ayat di atas dapat disimpulkan sebagai berikut

  • Perselisihan itu sesuatu yang manusiawi, bisa terjadi, meskipun sebenarnya itu menunjukkan ketidakdewasaan (band. 1 Kor 3:1-3)
  • Kalau ada konflik internal seharusnya diselesaikan secara internal (oleh sesama orang Kristen = orang-orang kudus)
  • Orang percaya seharusnya bisa memecahkan masalah dan menegakkan keadilan. Kapasitas itu ada dalam diri orang percaya sebab itu merupakan kemampuan eskatologis Kristen dimana kelak pada waktu Kedatangan Kristus Kedua Kali (KKKK) kita akan turut menghakimi bersama Kristus (lihat lebih jauh di www.yesusdatang2012.wordpress.com)
  • Jangan terburu-buru (jangan sampai) kita malah membawa masalah internal ke pengadilan orang-orang non Kristen sebab itu ironis (masakan kita yang adalah hakim di akhir jaman minta diadili orang fasik?) dan tidak menjadi kesaksian yang bagus.
  • Di dalam jemaat pasti ada orang yang diberi karunia hikmat untuk menyelesaikan masalah keadilan internal Kristen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: