H. PENGINJILAN

PENGANTAR UNTUK SEMINAR ”TINJAUAN ALKITAB & HUKUM TENTANG PENGINJILAN”

MASALAH SOSIAL YANG DIHADAPI DALAM PENGINJILAN

Lihat juga www.sosiologikristen.wordpress.com

Misiolog Arie de Kuiper menjelaskan bahwa penginjilan mencakup masalah-masalah utama yaitu subyek penginjilan, obyek penginjilan, tujuan penginjilan, dan cara penginjilan (1996, hal 75). Mengenai subyek penginjilan, Kuiper menegaskan bahwa Tuhanlah yang mengutus (memberi mandat) dan gereja (komunitas orang Kristen) adalah pelaksana tugas penginjilan itu. Obyek penginjilan adalah manusia (masyarakat) yang belum menjadi Kristen. Tujuannya adalah supaya manusia-manusia itu mau menjadi Kristen sehingga menjadi umat Kristen. Dengan demikian penginjilan adalah proses pengembangan umat melalui ajakan untuk menjadi pengikut – suatu ciri alamiah dari setiap agama yang ada.

Tetapi di dalam teologia Kristen, menjadi Kristen diyakini sebagai suatu proses yang bersifat illahi. Artinya, bukan karena rekayasa, dorongan, apalagi paksaan manusiawi. Menjadi Kristen (percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat) merupakan hasil karya dan dorongan dari Roh Kudus (Tuhan sendiri). Adapun tugas penginjilan yang dilakukan oleh gereja (komunitas Kristen) sifatnya hanya memberitahukan jalan (menunjukkan kebenaran) tanpa memberi paksaan (kristenisasi).

Data dari Alkitab memang menunjukkan bahwa menjadi Kriten bukanlah rekayasa manusia. Bukan paksaan manusia. Sebagai contoh adalah pertobatan Paulus. Dulunya, Paulus adalah penganiaya umat Kristen. Namun, ketika hendak menganiaya orang Kristen, Tuhan Yesus menyatakan diri dalam bentuk sinar dan suara teguran yang akhirnya mempertobatkan dirinya sampai menjadi seorang rasul dan pemimpin Kristen (Kis 9).

Adapun sosiologi berbeda dengan teologia. Sosiologi adalah sains yang bersifat ilmiah sehingga tidak membahas masalah-masalah yang bersifat supranatural. Gejala-gejala yang bersifat supranatural dianalisa secara rasional. Demkian halnya dengan proses penginjilan yang menurut Iman Kristen adalah proses illahi, di mana sosiolog hanya dipahami sebagai proses sosial semata.

Penginjilan secara sosiologis adalah proses merekrut orang untuk menjadi anggota gereja (komunitas Kristen) dengan cara mengarahkannya untuk memahami dan menerima ajaran Kristen. Dengan demikian penginjilan merupakan proses interaksi sosial. Gereja (orang Kristen) adalah komunikator dalam proses penginjilan dan orang non Kristen adalah komunikan. Penginjil melakukan kontak dengan para komunikan itu, baik secara primer maupun sekunder. Setelah kontak itu, penginjil mengkomunikasikan pesan pengajaran Kristen. Responnya berupa feedback, yaitu penerimaan atau penolakan. Secara sosiologis, penginjilan Kristen adalah bentuk akomodasi yaitu pendekan yang bersifat damai tanpa ada unsur kekerasan dan paksaan. Untuk memahami bisa dilihat kasus di bawah ini.

PENGINJILAN DI TENGAH MASYARAKAT HUKUM

Karena masyarakat merupakan “masyarakat hukum” maka proses penginjilan pasti akan bersinggungan dengan hukum positif yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Sebagai contoh adalah peraturan tentang, misalnya, larangan untuk perpindaha agama. Jika karena berita Injil maka seseorang berniat masuk menjadi Kristen, padahal sebelumnya sudah menganut agama tertentu, proses penginjilan itu akan bersinggungan dengan eksistensi kelompok agama lain. Hal itu akan pula berkaitan dengan peraturan-peraturan masyarakat tentang perpindahan agama. Itulah sebabnya penginjilan sering dituduh sebagai kristenisasi yang melanggar undang-undang karena dianggap sebagai pemaksaan atau rekayasa untuk memindah agama seseorang.

Dalam hal memberitakan keyakinan suatu agama, pastilah berkaitan dengan masalah truth claim (klaim kepercayaan) agama yang berbeda satu sama lain. Dalam hal ini mesti berhati-hati supaya klaim kepercayaan kita tidak dirasa atau dinilai sebagai pencemaran atau penistaan kepercayaan agama lain.

Masih banyak lagi masalah hukum yang harus dipahami supaya penginjilan tidak menjadi batu sandungan. Di sisi lain perlu dicari strategi (hikmat) supaya penginjilan tetap bisa dijalankan meskipun terjadi hambatan hukum atasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: