F. PERNIKAHAN

PENGANTAR UNTUK SEMINAR “TINJAUAN ALKITAB & HUKUM TENTANG PERNIKAHAN”

PERINTAH TUHAN TENTANG PERNIKAHAN

Menikah adalah kehendak Tuhan. Hal itu sudah dinyatakan sejak awal. Allah memberkati mereka lalu Allah berfirman kepada mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu….” (Kej 1:28). Firman-Nya, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu” (Kej 2:24-25).

Yesus menekankan kembali perintah pernikahan itu sambil menegaskan tentang keutuhan pernikahan dan larangan perceraian. Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mat 19:5-6).

LARANGAN UNTUK BERCERAI

Alkitab sangat jelas mengajarkan larangan untuk bercerai. Pada jaman Perjanjian Lama perceraian memang diatur sedemikian rupa dalam hokum Taurat (Ul 24:1-4). Namun itu sebenarnya bukan kehendak Tuhan yang ideal, itu karena ketegaran bangsa Israel sehingga Musa mengatur soal perceraian tersebut. Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (Mat 19:8).

Mengenai perceraian, Yesus jelas melarangnya! Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mat 19:5-6).

CERAI DAN KAWIN LAGI = PERZINAHAN

Injil mencatat demikian: Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah (Mat 19:9)

Dengan membandingkan ucapan Yesus dalam Matius 5:32 dengan Matius 19:3-12, Markus 10:2-12, dan Lukas 16:18 nampak bahwa Yesus mencap perceraian dan kawin kembali sebagai dosa perzinahan (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, 1996, hal 157).

Dari ayat 9 dari Injil Matius 19, meskipun masih diperdebatkan, disimpulkan bahwa alasan zinah boleh dijadikan dasar untuk bercerai. Meskipun demikian substansi dari hal itu tidak dinyatakan dalam Injil Markus dan Injil Lukas. Yang jelas, kawin lagi itu sama dengan perzinahan itu sendiri. Dari sini sebetulnya dapat disimpulkan bahwa TUHAN SAMA SEKALI TIDAK MENGHENDAKI PERECERAIAN.

Dalam Injil Markus dijelaskan dengan gamblang oleh Yesus bahwa cerai dan kawin lagi itu sama dengan dosa perzinahan. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah” (Mrk 10:11-12). Jadi, APAPUN ALASANNYA, BERCERAI DAN KAWIN LAGI SAMA DENGAN BERZINAH.

Bagaimana jika perceraian dan pernikahan lagi itu terjadi sebelum seseorang menjadi Kristen (lahir baru)? Dengan mengacu pada surat 1 Kor 6:9, 11 disimpulkan bahwa seorang yang baru percaya, yang sebelumnya bercerai dengan alasan-alasan yang sah atau tidak, dan yang sudah menikah lagi, tidak dapat kembali kepada pasangannya semula, dan pernikahan kedua tidak dapat dicap sebagai perzinahan (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, 1996, hal 158).

LARANGAN UNTUK MENIKAH DENGAN ORANG BERBEDA IMAN

Firman Tuhan tegas melarang kita untuk menikah dengan orang yang tidak percaya: ”Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat beratu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tidak percaya” (2 Kor 6:14).

STRUKTUR KELUARGA

Alkitab menegaskan tentang penegakan struktur illahi di dalam sebuah keluarga Kristen. Paulus menegaskan bahwa suami (ayah) adalah kepala (imam) dalam keluarga: “Hai istri tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu” (Ef 5:22-24).

Implikasinya, di dalam pelayanan – menurut beberapa penafsir – seorang wanita tidak boleh menjadi pemimpin sebab hal itu akan melanggar aturan struktur illahi tersebut. Paulus sendiri juga mengatakan demikian, yaitu pemimpin jemaat haruslah seorang pria/suami (1 Tim 3:3, 4 – seorang suami dari satu istri, seorang kepala keluarga; 1 Tim 3:12 – diaken haruslah suami dari satu istri….).

Namun, struktur illahi dengan kepemimpinan pria itu tidak boleh menjadi jalan untuk mengeksploitasi kaum perempuan (istri). Struktur itu justru harus menjadi jalan bagi kaum pria (suami) untuk mengasihi, mengasuh, dan memuliakan istrinya. Paulus menegaskan: “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi  jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yangs serupa dengan itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasihinya dan merawatinya sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya” (Ef 5:25-30).

STATUS (STATUS) DAN PERAN (ROLE) DALAM KELUARGA

Tuhan juga mengatur masalah kedudukan (status) dan peran (role) sehingga keluarga Kristen menjadi sebuah unit sosial yang berkenan dan efektif bagi Tuhan.

Kedudukan dan peran seorang suami (ayah) adalah sebagai berikut

  • Menjadi kepala keluarga, pemimpin bagi istri dan anak-anaknya (Ef 5:22-24). Hal itu berarti seorang suami menjadi pemimpin dalam hal rohani dan kehidupan.
  • Mengayomi dan menghidupi istri dan anak-anaknya (1 Tim 3:12). Termasuk bekerja atau mencari rezeki (band. Kej 3:17-18)
  • Mengasihi istri seperti Yesus mengasihi jemaat (Ef 5:25-30). Ini menjadi dasar tidak boleh terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Ini juga menjadi dasar untuk memberi penghargaan kepada kaum perempuan. Bahwa kepemimpinan  kaum pria tidak berarti peminggiran terhadap kaum wanita.

Kedudukan dan peran seorang istri adalah sebagai berikut

  • Mendukung dan tunduk kepada suami, melayani suami (Ef 5:22-24).
  • Melahirkan dan membesarkan anak sebagaimana kodratnya (band. Kej 3:16)

Berdasarkan struktur illahi di atas, suami dan istri bisa bekerja bersama, bahu membahu, untuk mengembangkan kehidupan dan pelayanan.

  • Keluarga menjadi satu unit ekonomi – seperti Akwila dan Priskila
  • Keluarga menjadi satu unit pelayanan, suami istri menjadi pasangan hamba Tuhan
  • Seorang wanita (istri) bisa dipakai Tuhan secara luar biasa dengan peng-cover-an suaminya. Hal itu terlihat dari bagaimana Maria menjadi hamba Tuhan dengan tugas yang sangat besar, yaitu melahirkan dan membesarkan Sang Mesias. Di dalam ”pelayanan” itu, Maria tidak sendirian, tetapi menjalaninua dengan peng-cover-an sang suami, Yusuf. Supaya, dengan pengayoman suami itu, struktur illahi tidak dilanggar.

KETERTIBAN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

Ketika manusia masih hidup primitive, tidak ada hokum yang mengatur masalah perkawinan-pernikahan. Kala itu disebut sebagai jaman promiskuitas (promiscuity) di mana terjadi hubungan seksual bebas antar manusia (Promiscuous:having or characterized by many transient sexual relationships – Concise Oxford English Dictionary).

Di dalam “masyarakat hukum”, pernikahan pada dasarnya merupakan sebuah “peristiwa hukum” yaitu peristiwa kemasyarakatan yang membawa akibat yang diatur oleh hukum. Dalam peristiwa perkawinan pria-wanita, menimbulkan akibat hukum berupa hak dan kewajiban suami-istri. Itulah sebabnya Negara mengatur dengan peraturan-peraturan perundangan tertentu.

Adapun orang Kristen adalah warga Sorga dan sekaligus warga Negara di dunia yang diperintahkan Tuhan untuk taat kepada hokum (Rom 13:1-7). Karena itu kita tidak boleh cuek dan masa bodoh dengan hukum yang ada. Misalnya, untuk menikah kita harus melalukan proses pencatatan sipil, dan sebagainya.

Namun, Hukum Tuhan (Firman Tuhan) harus lebih kita pegang daripada hokum positif yang ada. Sebagai contoh, meskipun menurut hukum positif kita diperboleh bercerai, namun sebagai anak-anak Tuhan kita tidak akan bercerai karena Firman Tuhan (Hukum Tuhan) melarangnya. Pada jaman Yesus, hukum Yunani dan Romawi mengatakan bahwa istri boleh saja menceraikan suaminya seperti Herodias menceraikan suaminya yang pertama. Namun dalam siatusi hukum seperti itu Yesus tetap menegakkan Hukum Tuhan tentang larangan keras untuk bercerai!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: