D. KEKRISTENAN & HUKUM

MASALAH HUKUM

Berbicara tentang masalah hukum, orang-orang percaya (orang Kristen, Gereja) mempunyai persoalan factual sebagai berikut.

  • HUKUM ROHANI.Tuhan adalah pembuat hukum rohani yang harus ditaati dan Kristus adalah Hakim pada akhir jaman, siapa percaya pada-Nya tidak akan dihukum.
  • HUKUM SEKULER. Orang Kristen adalah warga dunia dan pengubah dunia sehingga harus taat hukum, mengerti dan melakukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban hukum, serta bisa mencipta (membangun) hukum.

TUHAN = RAJA

Salah satu nama Tuhan kita adalah YEHOVAH MELEK (www.misteriyehovah.wordpress.com). Nama YEHOVAH MELEK menjelaskan bahwa Tuhan itu Raja (Melek). Menurut Towns (1995) kata Raja sebenarnya bukanlah suatu nama pribadi dari Allah, namun itu benar-benar merupakan salah satu di antara sebutan-Nya. Pemazmur memakai kata Raja itu sebagai sinonim untuk Allah (Mzm 5:3 – ”Ya Rajaku ya Allahku”). Pemazmur mengatakan bahwa Allah mempunyai kedudukan sebagai raja atau penguasa (Mzm 74:12 – ”ya Allah adalah Rajaku”).

Nama YEHOVAH MELEK mengandung implikasi yang menurut Towns (1995) adalah, Raja mempunyai kekuasaan legislatif yaitu membuat undang-undang. Hal itu berarti, kita harus mentaati hukum-hukum yang dibuat oleh Tuhan (perintah-perintah Firman Tuhan).

Kita harus tunduk kepada Tuhan sebab Dialah Raja kita. Towns (1995) mengatakan bahwa ungkapan ”Tuhan adalah/itu Raja” (Mzm 93:1) berarti Tuhan memerintah (reigneth) yang mengandung konsekuensi bahwa kita harus taat/tunduk pada pemerintahan-Nya.

PERCAYA YESUS = TIDAK DIHUKUM

Semua manusia adalah berdosa. Sehingga semua tidak ada yang dibenarkan, tidak ada yang bisa selamat dari hukuman kekal. Jika dan hanya jika manusia percaya kepada YESUS KRISTUS maka akan dibenearkan, ditebus dari hukuman, dan diselamatkan.

Keselamatan dari hukuman kekal di dalam YESUS itu adalah anugerah Tuhan seperti ada tertulis: ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

YESUS = HAKIM

Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan (Yud 14).

Semua orang berdosa. Sejak lahir sudah berdosa, apalagi ditembah berbagai-bagai dosa perbuatan yang dilakukan selama hidup. Jadi, semua manusia pasti akan dihukum. Manusia bisa lepas dari hukuman itu apabila bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Yaitu menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.

Yesus sangat mengasihi orang berdosa. Karenanya Ia rela disalibkan, mati dan turun ke kerajaan maut. Itu dilakukan untuk menebus dosa manusia. Yesus senantiasa berempati kepada pendosa dalam rangka memperdemaikan manusia dengan Tuhan. Empati terhadap orang berdosa itu Dia ekspresikan saat meratapi Yerusalem, sambil menangisi kota itu Ia berkata, “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dangan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau” (Luk 19:41-44).

Kotbah Yesus di Bukit Zaitun tentang akhir jaman (Mat 24-25) pada dasarnya juga merupakan himbauan supaya manusia bertobat. Kotbah itu disampaikan-Nya dengan penuh belas kasihan. Kotbah itu diawali-Nya dengan ratapan terhadap Yerusalem, kata-Nya, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” (Mat 23:37).

Namun, lain sekarang lain nanti! Sekarang, Yesus adalah sosok Gembala Agung yang panjang sabar menghimbau pertobatan manusia. Adapun nanti, Yesus adalah Hakim yang akan tanpa kompromi memisahkan domba-domba-Nya dari kambing-kambing. Yesus akan menyatakan diri sebagai Raja dan Hakim yang penuh otoritas.

Bapa memberikan otoritas penuh kepada Yesus untuk menjalankan tugas penghakiman. Yohanes mengatakan, ”Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa” (Yoh 5:22-23). Kitab Wahyu mencatat bagaimana Yesus sebagai Hakim akan bertindak penuh kuasa tanpa mengenal kompromi lagi: ”Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi da Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa” (Why 19:15). Jauh-jauh hari, pemazmur sudah mengatakan, ”Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang perikuk” (Mzm 2:9).

Kita yang masih hidup sekarang harus bisa memahami Pribadi Yesus secara menyeluruh. Terkadang kita hanya melihat dari satu sisi saja, yaitu sosok Kristus yang lemah lembut, penuh belas kasihan, dan Mahapengampun. Karena itu kita sering hidup tidak benar dan tidak kudus dan tidak melaksanakan perintah-perintah-Nya. Pikir kita, ”Ah, tokh Yesus pasti mengampuni dan mengasihi kita, bukan?” Kita lupa bahwa Dia adalah Raja dan Hakim, Pembuat hukum yang tegas dan berlaku adil. Karena itu Tuhan sering menegur dan menghajar kita supaya kita bertobat (band. Why 3:19). Lebih baik dipukul Tuhan sekarang daripada dipukul dengan gada-Nya pada hari penghakiman di akhir jaman nanti. Kalau kita mau ditegur Tuhan sekarang dan kemudian bertobat lalu bertumbuh dalam kebenaran, Tuhan akan meluputkan kita dari hari penghakiman akhir yang mengerikan itu.

DUNIA = SISTEM HUKUM

Dunia sekarang pada dasarnya merupakan sistem kebudayaan di mana terdapat sistem norma (aturan) yang mengendalikan perilaku manusia. Jadi, dunia pada dasarnya merupakan sistem hukum. Masyarakat pada dasarnya merupakan ”masyarakat hukum”. Bahkan dalam masyarakat tradisional atau primitif pun ada hukum adat.

Bagaimana kualitas hukum sekuler ada di dunia menurut pandangan Alkitab. Pertama, terdapat juga kearifan dan kebijakan karena semua manusia menerima ”penyataan umum Tuhan” yang diberikan lewat alam dan sejarah (sedangkan penyataan khusus adalah melalui Yesus Kristus dan Alkitab, diterima hanya oleh orang percaya). Karena adanya ”penyataan umum” itu maka pada tingkat tertentu manusia dapat hidup arif. Bahkan dalam masyarakat primitif pun terdapat apa yang sekarang disebut sebagai kearifan lokal.

Kedua, di sisi lain, pada dasarnya semua manusia itu sudah jatuh dalam dosa. Manusia berdosa sudah rusak moralnya (total depravity). Karena itu, produk-produk hukum yang diciptakan manusia pada dasarnya tidak sempurna, bahkan tidak benar pula.

Ketiga, parahnya lagi, dunia sekarang masih diijinkan Tuhan berada di bawah kekuasaan iblis (1 Yoh 5:19; Ef 6:19). Dengan demikian manusia-manusia yang menciptakan dan menjalankan hukum sekuler ini berada di bawah pengaruh iblis. Karena itu produk-produk hukum yang ada seringkali berlawanan dengan Tuhan dan Firman-Nya.

KETAATAN KRISTEN

Meskipun dunia dan system hukumnya pada dasarnya bobrok, Tuhan tidak mengendaki anak-anak-Nya berlaku a-sosial. Orang Kristen jangan menjadi batu sandungan, maka harus pula taat hukum seperti ajaran Yesus supaya kita membayar pajak (Mat 17:27).

Sebagai warga negara dunia (disamping warga Kerajaan Sorga), orang Kristen harus taat pada pemerintah dan hukum-hukum yang dibuatnya (Rom 13:1-7). Prinsip penundukan diri ini pada dasarnya merupakan sikap kasih orang Kristen. Kita juga harus memberi keteladanan di tengah masyarakat. Namun, tentu ada waktunya kita lebih taat kepada Tuhan daripada taat kepada manusia. Ada waktunya, ketika pemerintah dan sistem hukum benar-benar anti Tuhan, kita lebih taat kepada Tuhan. Sebagai contoh adalah Daniel yang tetap menyembah Tuhan meskipun hukum pada waktu itu melarangnya. Ketaatan kepada Tuhan itu membuat dirinya dibela oleh Tuhan sendiri.

PERJUANGAN HUKUM ORANG KRISTEN

Orang Kristen harus memahami masalah-masalah kewarganegaraan (lihat www.christiancitizenship.wordpress.com). Kita harus memahami masalah hukum sehingga mengerti hak-hak dan kewajiban-kewajiban kita sebagai warga negara yang baik. Pada saat diperlakukan tidak adil, bila mengerti hak-hak maka kita bisa membela diri untuk mendapat keadilan hukum berdasar prinsip equality before law.

Paulus adalah contoh hamba Tuhan yang melek dan paham hukum sehingga bisa memperjuangkan hak-haknya. Ia pun diperhitungkan dan dihormati karena bisa membela diri secara hukum. Meskipun banyak aniaya dijalaninya dengan sukarela karena itu diyakininya sebagai kehendak Tuhan, Paulus tidak lantas menyerah begitu saja ketika diperlakukan dengan tidak adil. Kisah Para Rasul 22:23-29 merekam peristiwa pembelaan Paulus berdasar hukum sehingga ia tidak jadi diperlakukan tidak adil, lengkapnya sebagai berikut: Mereka terus berteriak sambil melemparkan jubah mereka dan menghamburkan debu ke udara. Karena itu kepala pasukan memberi perintah untuk membawa Paulus ke markas dan menyuruh memeriksa dan menyesah dia, supaya dapat dikertahui apa sebabnya orang banyak itu berteriak-teriak sedemikian terhadap dia. Tetapi ketika Paulus ditelentangkan untuk disesah, berkatalah ia kepada perwira yang bertugas: ”Bolehkan kamu menyesah seorang warganegara Rum, apalagi tanpa diadili?” Mendengar perkataan itu, perwira itu melaporkan kepada kepala pasukan, katanya: ”Apakah yang hendak engkau perbuat? Orang itu warganegara Rum.” Maka datanglah kepala pasukan itu kepada Paulus dan berkata: ”Katakanlah, benarkah engkau warganegara Rum?” Jawab Paulus: ”Benar!” Lalu kata kepala pasukan itu: ”Kewarganegaraan itu kubeli dengan harga yang mahal.” Jawab Paulus: ”Tetapi aku mempunyai hak itu karena kelahiranku.” Maka mereka yang harus menyesah dia, segera mundur; dan kepala pasukan itu juga takut, setelah ia tahu, bahwa Paulus, yang ia suruh ikat itu, adalah orang Rum.

Tetapi, sebagai anak Tuhan, kita harus mengandalkan PEMBELAAN TUHAN. Manakala jalur advokasi gagal, Tuhan bisa menolong secara ajaib. Saat Paulus dan Silas di penjara di Filipi, mereka tidak bisa membela diri untuk mendapatkan keadilan hukum. Maka mereka berdoa dan memuji Tuhan sehingga Tuhan berpenetrasi: terjadi gampa bumi hebat yang bukan hanya membuat mereka berdua bebas namun membuat orang-orang bertobat kepada Kristus. Ketika Yusuf difitnah dan dijebloskan ke penjara, tak seorang pun menolong. Namun Tuhan sendiri yang mengatur sedemikian rupa sehingga ia bukan hanya bebas namun bahkan ”terpental ke atas” menjadi orang nomor dua setelah Firaun di Mesir.

GEREJA = TRANSFORMATOR MASYARAKAT

Gereja dipanggil Tuhan untuk menjadi garam dan terang dunia. Sikap dan perilaku hukum anak-anak Tuhan harus memuliakan Tuhan. Ada banyak kasus anak Tuhan – bahkan hamba Tuhan – bercerai di pengadilan. Ini benar-benar memalukan, mendukakan Tuhan, dan mencemarkan kekristenan di masyarakat. Seharusnya, kita menjadi teladan. Dalam hal konflik misalnya, seringkali orang-orang Kristen, pemimpin-pemimpin Kristen, gereja-gereja, dan lembaga-lembaga Kristen tidak menjadi terang.

Padahal seharusnya, Gereja Tuhan (orang percaya) bukan hanya menjadi teladan namun menjadi pembangun dunia ini supaya menjadi lebih baik dan mengarah pada terang Kristus. Kita diberi mandat penginjilan (Amanat Agung) dan mandat pembangunan budaya (Kej 1:8). Gereja seharusnya berkontribusi untuk turut membangun sistem hukum di dunia ini supaya menjadi lebih baik, dijiwai oleh nilai-nilai kebenaran, dan diterangi oleh Firman Tuhan.

AGEN-AGEN PERUBAHAN

Pada era demokrasi, masyarakat (rakyat) mendapat kesempatan luas untuk turut secara aktif menciptakan hokum. Bahkan kalaupun sudah ada produk hokum yang keluar, masyarakat bisa melakukan peninjauan ulang melalui proses judicial review. Pers yang merupakan “pilar keempat demokrasi” menjadi jalan untuk menyalurkan opini public yang mempengaruhi proses penciptaan dan pelaksanaan hukum.

Dengan demikian, di era demokrasi ini, orang Kristen bisa secara aktif berkontribusi untuk menciptakan hukum. Karena itu para pemimpin Kristen harus berani bersuara, memberikan gagasan-gagasan, dan melancarkan control social. Saatnya Gereja menyampaikan suara kenabiannya.

Demikian juga anak-anak Tuhan yang bekerja di marketplace yang berhubungan dengan dunia hukum (misalnya yang menjadi hakim, jaksa, pengacara, politisi, anggota parlemen, kritikus, public opinion maker, pengamat, akademisi, ahli hokum, dst) harus menjadi agen-agen perubahan. Jangan hanya bekerja untuk mencari duit, harta, dan kekuasaan. Orang Kristen bekerja untuk berdampak di marketplace, yaitu turut membangun dan merubah system hokum supaya menjadi baik, menjadi diterangi oleh Firman Tuhan. Kita bekerja dengan visi illahi dan tujuan-tujuan illahi yang tidak sekedar tujuan untuk memuaskan perut sendiri!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: