A. KEGIATAN H2CLS

December 4, 2009

MEMBERI PEMBINAAN HUKUM UNTUK MAJELIS GKJ MERGANGSAN YOGYA (25 JUNI 2011)

Yogyakarta (25 Juni 2011). Haryadi Baskoro bersama pengacara Hedy Christiyono Nugroho, S.H. memberikan pemahaman dan pembinaan hukum untuk majelis GKJ Mergangsan Yogyakarta yang khusus menangani masalah kehartaan gereja. Pemahaman dan pembinaan yang diberikan berupa sharing dan konsultasi, yang setelah pertemuan pertama itu akan dilanjutkan dalam pertemuan-pertemuan rutin.

Pada kesempatan itu, Haryadi memberikan wawasan tentang pelayanan yang harus dilakukan dengan mengutamakan integritas dan profesionalitas yang tinggi. Haryadi menjelaskan pentingnya pembinaan hukum yang diberikan untuk setiap pengerja gereja mengingat pada masa sekarang Gereja dituntut untuk memiliki wawasan tersebut sehubungan dengan berbagai persoalan internal dan eksternal yang semakin pelik.

Dalam konsultasi tentang hukum, Hedy memberikan beberapa petunjuk praktis mengenai persoalan-persoalan yang dihadapi. Seringkali gereja kurang memperhatikan aspek teknis sehingga kebijakan yang diberikan justru menyebabkan kerugian-kerugian yang semestinya bisa dihindari.

MEMBERI PEMBINAAN HUKUM UNTUK GURU-GURU P.A.K. SE KOTA SURABAYA (18 JUNI 2011)

Surabaya(18 Juni 2011). Haryadi Baskoro dan Hedy Christiyono Nugroho SH memberikan ceramah khusus untuk guru-guru Pendidikan Agama Kristen (SD, SMP, SMA, SMK) se-kotaSurabaya. Dalam pertemuan ini para guru dibelaki pemahaman komprehensif tentang Undang-Undang Perlindungan Anak dan Undang-Undang Transaksi Elektronik. Acara seminar dengan 3 sesi itu dimulai jam 09.00 sampai jam 14.00 WIB dengan pemberian sertifikat oleh tim penceramahnya.

Pada sesi pertama, Haryadi memberikan pemaparan umum mengenai hukum. Haryadi menjelaskan bahwa orang Kristen harus memahami hokum. Contoh yang bagus antara lain adalah rasul Paulus. Saat Paulus dipenjara di Filipi dan tidak mempunyai kesempatan untuk membela diri, Paulus dan Silas cukup berdoa dan memuji Tuhan, dan mujizat gempa yang membebaskan mereka pun terjadilah (Kis 16:25-26). Tetapi, pada kali lain, ketika Paulus akan dihulum secara tidak adil, Paulus membela diri dengan argumentasi hokum, dan Paulus pun dibebaskan (Kis 22:23-29). Hal itu menunjukkan bagaimana seorang pemimpin Kristen harus bisa “berdoa dan bekerka”.

Haryadi Baskoro menandaskan bahwa guru adalah seorang pemimpin. Ia harus bisa memimpin dan menjadi teladan bagi para murid. Bahkan, jika mengacu pada surat Efesus 4:11, karunia “mengajar” dan “menggembala” itu merupakan satu kesatuan (pastor-teacher). Karena itu seorang guru jangan hanya bisa mengajar namun memimpin (menggembalakan) para muridnya. Dalam bahasa hukum, guru harus bisa meng-advokasi anak-anak didik.

PEMBUATAN FILM DOKUMENTER BERSAMA PARA MAHASISWA STT TAWANGMANGU JAWA TENGAH (7 MEI 2011)

Pada Sabtu, 7 Mei 2011, Tim H2CLS mendukung pelatihan dan proyek pembuatan film documenter yang dilakukan oleh para mahasiswa STT Tawangmangu tentang sejarah peninggalan kebudayaan kuno di beberapa situs di daerah Karangayar Jawa Tengah. Dalam hal ini Tim H2CLS berlaku sebagainarasumber bidang hokum dan kebudayaan yang diwawancarai dan sekaligus sebagai konsultan/penasihat hukum atas pembuatan film tersebut.

Pelatihan dan proyek pembuatan film documenter itu merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah sosiologi yang diampu oleh dosen Haryadi Baskoro. Dalam mata kuliah itu, Haryadi membimbing para siswa untuk meneliti beberapa situs budaya (candi Cetho, candi Sukuh, dan kepunden) yang berlokasi di Karanganyar dan sekitarnya dan sekaligus memfilmkannya.

Dalam riset dan pembuatan film itu, para mahasiswa menemukan data-data yang menarik untuk dikaji seperti adanya tempat pemujaan di mana symbol merah putih berada. Menurut juru kunci candi Cetho, symbol merah putih itu diwariskan sejak jaman kerajaan Majapahit. Para pemimpin di negeri ini juga pernah berkunjung dan berziarah di situs-situs tersebut. Sampai hari ini, seperti dijumpai dalam riset tersebut, masih banyak peziarah yang berdoa, bersemadi, atau bermeditasi di situs-situs bersejarah tersebut.

PELATIHAN HUKUM UNTUK GURU-GURU ANAK SE-INDONESIA DI STAK PESAT SALATIGA (6 MEI 2011)

Pada 6 Mei 2011 Tim H2CLS memberikan ceramah khusus mengenai hukum dan Undang-Undang perlindungan anak kepada guru-guru Taman Kanak-Kanak yang diutus dari berbagai daerah di seluruhIndonesia. Acara ini diselenggarakan oleh lembaga pelayanan anak “Future Centre” di kampus STAK Terpadu PESAT di Tuntang, Jawa Tengah.

Pada sesi pertama, Haryadi Baskoro membahas tentang “Tanggungjawab Pendidik Kristen dalam Advokasi Anak”. Pada kesempatan itu, Haryadi menekankan bahwa guru harus bisa memberikan pengenalan wawasan hukum sedini mungkin kepada anak, memperlakukan anak secara adil, dan juga memberi pembinaan moral pada anak. Mengenai advokasi guru Kristen terhadap anak, Haryadi menjelaskan bahwa hal itu bisa mencakup advokasi secara spiritual (termasuk melalui tindakan guru berdoa syafaat bagi anak) dan advokasi secara non-spiritual (mencakup berbagai usaha memperjuangkan nasib dan masa depan anak). Menurut Alkitab, pelayanan guru dan gembala merupakan satu kesatuan (pastor-teacher). Demikianlah hendaknya para guru Kristen memiliki hati seorang gembala yang selalu mengayomi, menyelamatkan, melindungi, dan merawat domba-dombanya.

Hedy Chritiyono Nugroho melanjutkan sesi berikutnya dengan membahas tentang “Tinjauan Yuridis terhadap Perlindungan Anak Berdasarkan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak”. Hedy membahas pasal demi pasal dari undang-undang tersebut dengan memaparkan implikasi-implikasinya bagi pengembangan pelayanan anak yang harus dilakukan oleh para guru Kristen.

SEMINAR ”HIDUPKU BAGI BANGSAKU” DI KANAAN CAMP STAK PESAT SALATIGA JAWA TENGAH (29 MEI 2010)

Pada 29 Mei 2010 Tim H2CLS memberikan seminar pada tiga sesi dalam acara Kanaan Camp yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Agama Kristen Terpadu (STAK Terpadu) – yayasan PESAT, Salatiga Jawa Tengah. Kanaan Camp ini merupakan acara tahunan yang diikuti oleh wakil-wakil pemuda (pemimpin pemuda) dari gereja-gereja se Jawa Tengah.

Dalam acara itu, Hedy Christiyono Nugroho SH memberikan pelajaran tentang Korupsi di Indonesia dan bagaimana membangkitkan anak-anak Tuhan yang anti korupsi. Materi bukan hanya diberikan secara teoritis namun juga praktis. Setelah pemaparan materi, para peserta diberi pelatihan dengan mendiskusikan dan memecahkan contoh-contoh kasus-kasus korupsi yang diberikan. Hedy SH membahas pula gejala kejahatan korupsi yang terjadi di dalam kekristenan, termasuk di yayasan-yayasan Kristen dan bahkan gereja-gereja.

Dalam acara itu, Haryadi Baskoro MA, M.Hum memberikan seminar khusus dengan tema “Aku Bukan Jagi Kandang”. Pada sesi ini Haryadi memotivasi kaum muda supaya mengembangkan SDM dan kreativitas sehingga bisa menjadi ”misionaris di marketplace”. Dalam sesi ini Haryadi juga menampilkan kesaksian dari Ester dan Livy Laurens yang memiliki visi di bidang kerjanya masing-masing. Ester yang berkarir di perusahaan bisnis menyaksikan pengalamannya menjadi terang di dunia kerja. Sedangkan Livy menjelaskan bagaimana kiat-kiatnya menjadi agen transformasi di dunia seni dan entertainment.

KULIAH UMUM HUKUM II DI STT DOULOS YOGYAKARTA (10 MEI 2010)

Menyambung kuliah umum pertama yang diadakan 3 Mei 2010 silam, pada Senin 10 Mei 2010 Tim H2CLS memberikan Kuliah Umum Hukum II di STT Doulos Yogyakarta. Kuliah kali ini istimewa karena didukung dengan kehadiran Ketua Masyarakat Kristen Indonesia (MKI) Yogyakarta, Ir. Bambang Prijambodo, M.Si. Kuliah ini juga didukung dengan kehadiran seorang dosen jurusan Informatika UKDW, Joko Purwadi, ST, M.Kom.

Pada sesi pertama, Hedy Christiyono Nugroho SH memberikan pemahaman hukum terkait masalah Hak Asasi Manusia (HAM). Disamping membahas kasus-kasus umum tentang HAM, juga dibahasa secara panjang lebar tentang kasus-kasus pelanggaran HAM atas Gereja di Indonesia. Secara khusus dibahas tentang HAM terkait dengan kebebasan beragama dan beribadah sebagai hak asasi manusia. Pada sesi ini juga diputarkan film dokumenter karya John Pilger (The New Rulers of The World) yang menyingkapkan pelanggaran HAM di Indonesia.

Pada sesi kedua, Haryadi Baskoro MA, M.Hum membahas khusus tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia yang menegakkan HAM kebebasan beragama. Dijelaskan tentang bagaimana proses lahirnya Pancasila yang dulu sempat ’bertarung sengit’ dengan Piagam Jakarta. Dijelaskan pula tentang perkembangan Pancasila selama masa Orde Lama, Orde Baru,dan Era Reformasi sekarang. Mengapa sekarang Pancasila mulai ditinggalkan, mengapa ada keinginan untuk merubah dasar negara RI dengan dasar agama tertentu, dan bagaimana sikap Kristen juga dibahas dan didiskusikan bersama dalam perkuliaan padat tersebut.

SEMINAR HUKUM DI STT TAWANGMANGU, JAWA TENGAH (4 MEI 2010)

Pada Selasa 4 Mei 2010, Tim H2CLS memberikan Seminar Hukum untuk seluruh mahasiswa di STT Tawangmangu Jawa Tengah. Kegiatan ini diprakarasi HIMA STT Tawangmangu tersebut. Seminar ini diadakan beberapa waktu sebelum diadakan wisuda tahunan, sehingga para mahasiswa yang akan lulus mendapatkan bekal terlebih dahulu.

Pada sesi pertama, Hedy Christiyono Nugroho SH memberikan penjelasan mengenai persoalan hukum yang sedang dan akan dihadapi dalam pelayanan dan penginjilan. Seminar ini memang diberikan khusus untuk mempenglengkapi para hamba Tuhan dengan pemahaman hukum.

Pada sesi kedua, Haryadi Baskoro MA, M.Hum memberikan penjelasan mengenai ”Teologia Hukum” yang Alkitabiah. Salah satu yang ditekankan adalah keteladanan rasul Paulus sebagai hamba Tuhan yang melek hukum, bahkan bisa melakukan pembelaan hukum atas kasusnya sendiri (Kis 22:23-29). Pengalaman Paulus semestinya mendorong hamba-hamba Tuhan masa kini untuk belajar dan menguasai masalah hukum. Khusus di Indonesia, di tempat mana Kekristenan dihimpit, kita harus menjadi cerdik seperti ular di dalam mensikapi persoalan hukum. Tentunya dengan tetap menjaga ketulusan seperti merpati dengan motivasi hanya melayani Tuhan semata.

KULIAH UMUM HUKUM I DI STT DOULOS YOGYAKARTA (3 MEI 2010)

Pada Senin 3 Mei 2010, Tim H2CLS memberikan Kuliah Umum Hukum I untuk para mahasiswa STT Doulos yang berkampus di kawasan Sonopakis, Yogyakarta. Pada kuliah umum bagian pertama ini, dibagi dua sesi, pertama dilayani Hedy Christiyono Nugroho SH dan kedua dilayani Haryadi Baskoro, MA, M.Hum.

Pada sesi pertama, Hedy SH memberikan pemahaman dasar tentang hukum dengan fokus pada masalah-masalah hukum yang harus dipahami oleh para pendeta dan penginjil yang akan terjun langsung di masyarakat. Pemahaman praktis ini penting mengingat terkadang para hamba Tuhan kurang berhikmat di dalam melayani dan memberitakan Injil sehingga terjerat oleh kasus-kasus hukum yang sebenarnya bisa dihindari. Dalam pendirian gedung gereja dan lembaga-lembaga Kristen kita juga harus memahami seluk-beluk peraturan yang terkait.

Pada sesi kedua, Haryadi MA M.Hum memberikan penjelasan tentang perkembangan kekristenan di Indonesia dan tantangan politis yang dihadapi. Di sini dijelaskan tentang keterkaitan antara politik dan hukum. Dalam sejarah perkembangan di Indonesia, hukum yang dikembangkan senantiasa terkait dengan masalah politik. Kepentingan politik selalu mempengaruhi produk-produk hukum yang muncul. Akibatnya, ketika politik berselingkuh dengan kepentingan agama, kelompok-kelompok agama minoriaslah yang dipinggirkan.

PENGENALAN HUKUM UNTUK PEMUDA EN CHRISTO GEREJA GEKINDO (23 APRIL 2010)

Pada Jum’at 23 April 2010, Tim H2CLS memberikan seminar pengenalan hukum kepada kaum muda En Christo Gereja GEKINDO Yogyakarta. Acara diadakan di Wisma Eirene Yogyakarta. Pembinaan hukum ini diberikan dalam rangka rangkaian pendidikan Smart for Christ yang dilayani oleh Haryadi Baskoro (www. smartforchrist.wordpress.com).

Dalam pembinaan hukum itu, Hedy Christiyono Nugroho, SH            memberikan ceramah tentang pengenalan dasar-dasar pemahaman tentang hukum. Selanjutnya diadakan tanya jawab yang diikuti para peserta dengan cukup antusias. Beberapa pertanyaan mengarah pada permasalahan-permasalahan kehidupan sehari-hari yang dihadapi orang-orang Kristen berkenaan dengan masalah hukum.

Dalam pemaparannya, Haryadi Baskoro, MA, M.Hum menjelaskan tentang perkembangan Kekristenan dan hukum di Indonesia. Fakta menunjukkan bahwa produk perundangan yang muncul di negeri ini terkadang merugikan komunitas Kristen. Hal itu sering terjadi karena produk hukum acapkali merupakan kristalisasi kepentingan politik. Sedangkan aspirasi politik di Indonesia terkadang diwarnai oleh kepentingan kelompok-kelompok agama tertentu. Untuk itu Haryadi menandaskan bahwa Indonesia harus kembali menempatkan Pancasila sebagai sumber segala tertib hukum.

Haryadi menegaskan bahwa Pancasila adalah berkat bagi Kekristenan di Indonesia. Pdt. David Yonggi Cho, pendeta gereja terbesar di dunia yang berdomisili di Korea Selatan pernah mengatakan bahwa Pacasila adalah anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia. Bagi gereja Kristen, Pancasila dengan Sila Pertama Ketuhahan Yang Maha Esa memberi jaminan keleluasaan untuk beribadah. Sila pertama itu juga menjadi pintu terbuka untuk pemberitaan Injil Keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Karena itu orang Kristen harus turut berjuang menegakkan Pancasila.

PENGAJARAN AKHIR JAMAN DAN PERKEMBANGAN HUKUM INTERNASIONAL DI PMK UPN VETERAN YOGYA (19 MARET 2010)

Pada Jumat 19 Maret 2010, Tim H2CLS memberikan ceramah tentang akhir jaman pada persekutuan mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta. Persekutuan yang dihadiri 60-an mahasiswa itu memberikan wawasan tentang peristiwa-peristiwa akhir jaman dan perkembangan hukum dunia yang berkembang sekarang ini.

Pada sesi pertama, Haryadi Baskoro menjelaskan kronologi akhir jaman. Mulai dari pengangkatan (rapture), pengadilan Kristus, dan pernikahan Anak Domba. Dijelaskan pula bagaimana keadaan di bumi pasca rapture, yaitu berkuasanya Antikris, terjadinya multi bencana, dan perang Armageddon. Pada kesempatan ini Haryadi juga menjelaskan materi buku barunya tentang akhir jaman yang segera akan diterbitkan Andi Offset berjudul “Renungan-Renungan Terakhir”.

Pada sesi kedua, Hedy Christiyono Nugroho membahas perkembangan hokum dan perekonomian dunia yang juga sedang dipelajari dalam studinya di S-2 Hukum. Menurut Hedy, system perekonomian dunia pasca terbentuknya WTO (World Trade Organization) sudah mengerucut pada pembentukan system ekonomi dan hukum global. Artinya, proses menuju terbentuknya system pemerintahan tunggal pada era Antikris nanti sudah sangat siap, apalagi didukung dengan teknologi supercanggih.

SEMINAR HUKUM UNTUK HAMBA-HAMBA TUHAN DI GKKI BUKIT ZION SOMONGARI PURWOREJO (26 FEBRUARI 2010)

Pada Jumat 26 Februari 2010, Tim H2CLS memberikan pemahaman hukum khusus untuk hamba-hamba Tuhan di kawasan Purworejo dalam sebuah pertemuan terbatas di GKKI Bukit Zion Somongari Purworejo Jawa Tengah. Pertemuan ini diadakan sehubungan dengan beberapa tekanan yang dialami oleh komunitas Kristen di daerah tersebut.

Dalam pertemuan ini H2CLS memberikan sharing praktis dalam dua sesi. Pada sesi pertama di bahas tentang perkembangan gereja di Indonesia dan tantangan-tantangan sosial yang dihadapinya. Pada sesi kedua dibahas tentang aspek hukum yang harus dipahami dan ditaati dalam pelayanan gereja, misalnya masalah perijinan.

Menurut koorditator seminar itu, Pdt. Daniel Suharto, M.Th, pertemuan seminar itu baru yang pertama dan merupakan pembukaan. Selanjutnya akan diadakan pertemuan-pertemuan rutin untuk memperlengkapi hamba-hamba Tuhan di Purworejo dalam hal pemahaman hukum.

SEMINAR HUKUM UNTUK MAHASISWA KRISTEN ASAL MALINAU KALIMANTAN TIMUR DI YOGYAKARTA (17 FEBRUARI 2010)

Pada Rabu 17 Februari 2010, Tim H2CLS memberikan seminar Kekristenan dan Hukum serta Pemahaman Dasar Hukum untuk para mahasiswa Kristen asal Kabupaten Malinau Provinsi Kalimantan Timur. Seminar diadakan di asrama mahasiswa asal Malinau itu yang berlokasi di kawasan Seturan Yogyakarta. Seminar diberikan sebagai bagian dari rangkaian pengajaran Agama Kristen “Smart for Christ” untuk mereka (lihat www.smartforchrist.wordpress.com).

Pada sesi pertama, Haryadi Baskoro memberikan pengajaran tentang Kekristenan dan Hukum. Penekanan yang diberikan adalah pada pentingnya ketaatan orang Kristen pada hukum seperti halnya membayar pajak. Namun, orang Kristen juga harus bersikap kritis dan berani membela diri manakala diperlakukan secara tidak adil. Sikap tegas itu dicontohkan oleh Rasul Paulus ketika hendak diperlakukan tidak adil (Kis 22:23-29).

Pada sesi kedua, Hedy Christiyono Nugroho memberikan pemahaman tentang konsep-konsep dasar hukum. Kecuali itu, sebagai praktisi, Hedy memberikan kesaksian mengenai bagaimana dirinya harus menjaga integritas dan tetap menjadi garam dan terang dalam dunia kerja. Hal itu memotivasi para mahasiswa untuk kelak tidak asal bekerja mencari uang, namun menjadi saksi Kristus di marketplace.

SEMINAR HUKUM UNTUK PARA PEMIMPIN WANITA BERBAGAI GEREJA DI GKJ WATES (23 DESEMBER 2009)

Pada Rabu 23 Desember 2009, H2CLS bersama tim KAWAL (“Karena Anda adalah Wanitanya Allah”, sebuah program siaran khusus untuk wanita di Radio Petra FM yang ditangani oleh CornerStone Community Church) mengadakan seminar hukum khusus untuk para pemimpin wanita di GKJ (Gereja Kristen Jawa) Wates, Kulonprogo, Yogyakarta. Acara yang diselenggarakan dalam rangka Peringatan Hari Ibu ini mengambil thema “Bangkitlah Wanita Krsten yang Berpotensi”. Acara tersebut diikuti lebih dari 100 hamba Tuhan wanita dari beberapa gereja di kawasan Kulonprogo.

Pada sesi pertama, Haryadi Baskoro MA MHum membahas masalah kebangkitan wanita Kristen ditinjau dari sudut pandang Alkitab yang mana berbeda dengan trend gerakan kebangkitan wanita di dunia. Pada sesi kedua, Ria Ananti SIP memberikan kesaksian tentang bagaimana seorang wanita Kristen harus bisa memenangkan pergumulan-pergumulannya dalam hal membangun keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Pada sesi ketiga, Hedy Christiyono Nugroho SH memberikan kupasan menarik tentang wanita Kristen dan berbagai permasalahan hukum yang dihadapinya.

Pada akhir seminar itu dibuka kesempatan untuk tanya jawab yang disambut antusias oleh para peserta. Ada yang menanyakan masalah KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Ada pula yang menanyakan masalah-masalah hokum yang dihadapi wanita dalam pelayanan dan pengembangan gereja. Para nara sumber memberikan penjelasan komprehensif dari sudut pandang hukum dan Firman Tuhan.

Seminar yang dimulai dari jam 09.30 pagi itu selesai pada jam 13.00. Panitia yang terdiri dari gabungan beberapa gereja di Kulonprogo kemudian memberikan jamuan makan siang. Setelah itu acara dilanjutkan dengan KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) khusus wanita yang dilayani oleh Ps Sarlin Mataheru STh dari CornerStone Community Church Yogyakarta.

Secara keseluruhan, seminar itu menumbuhkan wawasan dan memberi pencerahan bagi gerakan kebangkitan wanita Kristen. Bagi kaum wanita dunia, kebangkitan perempuan lebih dimaknai sebagai gerakan memperjuangkan hak-hak (asasi) perempuan, kesetaraan gender, dan tampilnya perempuan dalam kekuasaan. Sedangkan kebangkitan wanita Kristen tidak bisa dimaknai semata-mata seperti itu.

Pertama, harus merupakan kebangkitan rohani dari keterikatan dosa dan iblis, menuju kelahiran baru, pertumbuhan rohani, dan kepenuhan dalam Roh Kudus.Kedua, kebangkitan untuk menjalankan mandat Tuhan. Yaitu mandat penginjilan (Mat 28:19-20) dan mandat pembangunan budaya (Kej 1:28). Mandat yang disebut kedua itu memberi landasan untuk kebangkitan wanita dalam dunia kerja. Ketiga, kebangkitan menjadi hamba-hamba Tuhan yang visioner. Tidak sekedar ”terjerat” dalam tuntutan siklus hidup yang biasa-biasa saja (lahir, sekolah, kuliah, bekerja, menikah, beranakcucu, pensiun, dan akhirnya mati). Wanita harus memiliki spirit of excellent. Menjalani hidup menurut panggilan illahi dan visi yang diberikan Tuhan. Keempat, kebangkitan dalam pelayanan dengan menjalankan peran atau fungsi dalam Tubuh Kristus sesuai dengan struktur kepemimpinan illahi yang Alkitabiah.Kelima, kebangkitan dalam kerja dan pelayanan dengan membangun kehidupan keluarga yang sesuai dengan kehendak Tuhan (Ef 5:22-33). Emansipasi wanita tidak lantas mendistorsi struktur keluarga yang ditetapkan Tuhan. Keenam, kebangkitan dalam mengembangkan seluruh potensi diri dalam hal mana wanita mempunyai sisi-sisi keunggulan tertentu seperti kelebihan dalam ketelitian, loyalitas, kelembutan, ketajaman intuisi, dan seterusnya.

PEMBINAAN HUKUM MAHASISWA KRISTEN STIKES WIRA HUSADA (12 DESEMBER 2009)

Pada Sabtu 12 Desember 2009, H2CLS memberikan pembinaan hukum untuk mahasiswa- mahasiswa Kristen STIKES Wira Husada, yaitu pada jam kuliah Agama Kristen. Pembinaan itu diberikan sebagai suplemen dari pelajaran agama yang ada. Dengan ini mahasiswa mendapat materi tambahan tentang tinjauan Alkitab dan hukum berkenaan dengan masalah kehidupan dan pekerjaan praktis.

Sekarang ini pekerjaan di bidang kesehatan sangat terkait dengan masalah hukum. Kasus Prita yang mencuat belakangan ini menunjukkan betapa masalah hukum di dunia kesehatan sangat penting. Ke depan, masalah hukum di dunia kesehatan akan semakin rumit. Misalnya ada peraturan bahwa pelayanan di bidang kesehatan ini harus mempertimbangkan aspek kesamaan agama. Dengan demikian, anak-anak Tuhan yang nantinya akan bergerak di dunia kesehatan harus memahami masalah hukum.

Mata kuliah Agama Kristen masa kini harus relevan dengan dunia kerja (marketplace) yang nanti akan digeluti oleh para mahasiswa. Jika pelajaran yang diberikan hanya bersifat teoritis dan melulu masalah rohani maka akan kurang bermanfaat. Itulah sebabnya H2CLS memberikan suplemen pelajaran untuk menjadikan pelajaran itu bersifat holistik-komprehensif. Para mahasiswa pun mendapat manfaat besar seperti terlihat dari antusiasme mereka untuk bertanya tentang masalah-masalah terkait.

SEMINAR HUKUM DI STAK PESAT JAWA TENGAH (30 NOVEMBER 2009)

Pada Senin 30 November 2009, H2CLS mengadakan seminar pemahaman hukum untuk mahasiswa dan dosen STAK PESAT di Tuntang, Jawa Tengah. Tema seminar itu adalah “Urgensi Pemahaman Hukum untuk Pengembangan Pelayanan Kristen”. Seminar yang diikuti oleh sekitar 70 orang itu disampaikan dalam dua session.

Pada sesi pertama, H2CLS memberikan prinsip-prinsip mengapa hamba-hamba Tuhan harus memahami masalah hukum. Paulus adalah contoh hamba Tuhan atau pemimpin Kristen dengan SDM multi kompetensi sehingga pada waktu diperlakukan tidak adil ia bisa memperjuangkan hak-hak hukumnya (Kis 22:23-29). Kemudian diberikan pemahaman mengenai konsep-konsep dasar tentang hokum. Dengan pemahaman ini diharapkan peserta seminar bisa mengidentifikasi dan menganalisa masalah-masalah hukum yang dihadapi dalam kehidupan dan pelayanan Kristen.

Pada sesu kedua, H2CLS memberikan pemahaman tentang perkembangan sistem perundangan di Indonesia. Diberikan penjelasan tentang proses-proses politik yang terjadi dibalik terbentuknya peraturan-peraturan hukum di Indonesia. Hal itu penting untuk menumbuhkan sikap kritis. Kemudian, diberikan penjelasan mengenai masalah perundangan apa saja yang terkait dengan kehidupan dan pelayanan Kristen. Misalnya adalah Undang-Undang Perlindungan Anak yang sangat penting dipahami oleh para pelayaan anak seperti Guru TK Kristen atau Guru-Guru Sekolah Minggu.

Beberapa pendeta, dosen, dan mahasiswa yang mengikuti seminar itu memberikan apresiasi dan mengharap supaya seminar itu diadakan lagi dengan durasi waktu yang lebih lama. Mereka juga berhadap supaya seminar itu diadakan di berbagai tempat untuk memperlengkapi pelayanan para pemimpin Kristen.

SHARING HUKUM DI ACARA “KAWAL” RADIO PETRA (23 NOVEMBER 2009)

Pada Senin 23 November 2009, H2CLS bersama ibu Pdt. Sarlin dari Gereja Corner Stone mengisi acara KAWAL (Karena Anda adalah Wanitanya Allah) di radio Petra FM. Ibu Sarlin adalah host acara yang dikhususkan untuk kaum wanita yang disiarkan setiap hari Senin malam (20.00-21.00) tersebut. H2CLS digandeng untuk memberikan sharing seputar masalah-masalah hukum yang relevan dihadapi oleh kaum wanita Kristen.

Dalam sharing-nya, H2CLS menekankan bahwa sangat penting bagi anak Tuhan – baik kaum wanita maupun kaum pria – untuk mempunyai pandangan dan sikap imani yang Alkitabiah dalam menghadapi masalah-masalah hidup yang dialaminya. Pengetahuan tentang hukum sekuler memang sangat penting, tetapi setiap anak Tuhan harus mengedepankan pendekatan iman ketika harus menyelesaikan persoalan. Sebagai contoh, ketika seorang istri Kristen diperlakukan keji oleh suaminya (KDRT), semestinya menyelesaikan persoalan itu dengan cara-cara Kristen dengan menyadari bahwa musuhnya yang sebenarnya bukan suaminya tetapi iblis (Ef 6:12 – musuh kita bukan darah dan daging tetapi setan). Secara hukum, sang istri bisa memperkarakan kasus KDRT itu dan bahkan menjebloskan suaminya ke penjara karena kejahatannya. Namun, seorang istri Kristen yang dipenuhi Roh Kudus hendaknya memilih jalur rohani, yaitu berdoa, mengampuni, dan berdamai dengan suaminya. Alkitab mengajarkan kasih, membalas kejahatan dengan kebaikan, dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita.

Dalam acara itu terjadi pula dialog interaktif. Telepon-telepon masuk dan beberapa pendengar menyampaikan pertanyaan-pertanyaannya. Bahkan para pendengar pria yang biasanya tidak pernah muncul, kali itu mengangkat telepon mereka untuk meramaikan suasana dialog interaktif. Pada intinya, H2CLS mendorong agar anak-anak Tuhan mengedepankan kasih dan cara-cara damai. Sebab, selama ini H2CLS menangani beberapa kasus perceraian – bahkan ada hamba Tuhan yang ingin bercerai. Ini sangat memalukan, mendukakan Tuhan. Meskipun perceraian orang Kristen bisa diperjuangkan di meja pengadilan, H2CLS menentang keras perceraian sebab itu tidak sesuai ajaran Firman Tuhan.

PEMAHAMAN HUKUM PADA KULIAH AGAMA KRISTEN DI STIKES WIRA HUSADA (9 NOVEMBER 2009)

Pada Senin 9 November 2009 jam 14.00-15.00 WIB, H2CLS memberikan pemahaman hukum untuk mahasiswa-mahasiswa Kristen STIKES Wira Husada Yogyakarta. Sharing yang disampaikan sebagai bagian (suplemen) pelajaran Agama Kristen ini diberikan untuk memberi wawasan dan pemahaman hukum untuk para mahasiswa yang nantinya akan terjun di bidang pekerjaan kesehatan sesuai dengan apa yang dipelajari di kampus selama ini.

H2CLS memberikan pemahaman dasar tentang prinsip-prinsip hukum dan terminologi-terminologi hukum. Kemudian pembahasan diarahkan pada seputar masalah hukum dan bidang pekerjaan kesehatan. Pemahaman ini penting sebab pada era sekarang, praktisi kesehatan yang melakukan kesalahan seperti malpraktik bisa dituntut secara hukum. Kecuali itu, undang-undang kesehatan masa depan yang dikembangkan bisa saja cenderung bernuansa diskriminatif. Semua itu perlu dipahami sehingga pada saat masuk di dunia kerja, para praktisi kesehatan bersikap arif dan berhati-hati.

Pelajaran Agama Kristen yang diberikan kali ini, dengan memberikan wawasan tentang hukum, diharapkan memberikan persiapan komprehensif bagi para mahasiswa untuk menghadapi masa depan mereka. Selama ini Pelajaran Agama hanya bersifat teoritis tentang pengetahuan agama saja. Dengan memberi suplemen pemahaman sekuler seperti pemahaman soal hukum ini, para mahasiswa diajar untuk menerapkan prinsip-prinsip iman Kristen secara praktis. Sebab, H2CLS bukan hanya memberikan pengetahuan hukum sekuler, tetapi menunjukkan pandangan dan sikap Kristen yang Alkitabiah berkenaan dengan masalah-masalah hukum tersebut.

PEMAHAMAN HUKUM PADA KULIAH AGAMA KRISTEN DI AKINDO (2 NOVEMBER 2009)

Pada Senin 2 November 2009, H2CLS memberikan pemahaman hukum untuk mahasiswa-mahasiswa Kristen Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Yogyakarta. Hal itu diberikan sebagai tambahan untuk Pelajaran Agama Kristen yang diberikan. Maksudnya adalah untuk memperluas wawasan bagi para mahasiswa sehingga memiliki pandangan komprehensif untuk memasuki dunia kerja.

Karena AKINDO mengajarkan bidang broadcasting, advertising, dan public relation maka pemahaman hukum yang diberikan pun berkisar pada masalah-masalah tersebut. Misalnya, H2CLS memberikan wawasan tentang masalah HKI (Hak Kekayaan Intelektual), undang-undang yang mengatur masalah teknologi informasi, dan lain-lain. Para mahasiswa dimotivasi untuk menjadi kreatif dan tidak menjadi pencontek atau penjuplak karya orang lain. Mereka juga didorong untuk mendaftarkan hak cipta karya-karya orisinil mereka. Masalah pembajakan karya-karya seni seperti musik dan film juga menjadi bahan pembahasan yang menarik.

Pelajaran Agama Kristen di AKINDO selama ini didisain khusus sehingga tidak hanya memberikan materi rohani saja, namun dikaitkan dengan masalah-masalah praktis di dunia kerja (marketplace). Harapannya, mahasiswa bisa menerapkan iman Kristen dalam dunia kerja. Banyak seniman, broadcaster, sineas, dan praktisi di dunia iklan yang tidak bekerja dengan nilai-nilai yang benar. Maka ketika anak-anak Tuhan bekerja di dunia kreatif seperti itu mestinya bisa tampil berbeda untuk memuliakan Tuhan.

SHARING PADA “WEDANGAN KEBANGSAAN” STAK PESAT (24 OKTOBER 2009)

Dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda, pada 24 Oktober 2009 STAK PESAT di Tuntang (Jawa Tengah) mengadakan acara sarasehan bertajuk “Wedangan Kebangsaan” yang diikuti sekitar 70 peserta. Dalam acara yang dikemas santai itu, H2CLS mendapat kehormatan untuk turut memberika sharing seputar masalah hukum dan nasionalisme.

Dalam acara itu, H2CLS yang diberi kesempatan untuk mengisi dua sessions, sempat memutarkan film singkat berisi drama rekonstruksi ulang Rapat BPUPKI yang melahirkan Dasar Negara Pancasila pada 1 Juni 1945 silam. Film pendek yang menggambarkan rapat pembentukan dasar negara itu mendapat respon positif dari para peserta. Bertolak dari film itu pula, H2CLS memberikan ulasan tentang pentingnya nasionalisme Indonesia dan tentang bagaimana Pancasila merupakan anugerah Tuhan untuk bangsa ini. Karena itu anak-anak Tuhan harus turut berjuang untuk mempertahankan, melestarikan, dan meningkatkan pengamalan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam acara itu, H2CLS juga tampil bersama beberapa nara sumber lain untuk membahas masalah kontribusi anak-anak muda Kristen dalam pembangunan bangsa dan negara. Dalam hal ini H2CLS menekankan supaya anak-anak Tuhan mengembangkan SDM secara maksimal dan memiliki visi menjadi agen-agen transformasi Indonesia. Secara keseluruhan acara itu sangat menginspirasi.

STT TAWANGMANGU (8 OKTOBER 2009)

Pada 8 Oktober 2009 dari pukul 08.00 sampai 17.0 WIB, H2CLS memberikan pemahaman hukum pada beberapa mahasiswa STT Tawangmangu (ST3) Jawa Tengah yang sedang mengikuti kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Kuliah itu sendiri didisain sehingga mahasiswa mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah-masalah kewarganegaraan dalam kaitannya dengan hidup dan pelayanan Kristen.

ST3 adalah sekolah tinggi teologi (seminari) yang secara khusus mempersiapkan calon-calon hamba Tuhan untuk menjadi pemimpin-pemimpin Kristen di masa depan. Melalui mata kuliah Pendidian Kewarganegaraan yang diperkaya dengan pemahaman hukum oleh H2CLS ini, para feature leaders diperlengkapi dengan pengatahuan kewarganegaraan yang lebih mendalam.

Dalam perkuliaan itu, H2CLS memberikan pemahaman tentang konsep-konsep dasar hukum. Kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab mengenai masalah-masalah hukum yang telah, sedang, dan akan dihadapi oleh kekristenan. Dengan itu para mahasiswa diajak berpikir kritis tentang situasi-situasi mutakhir yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta hubungannya dengan perkembangan kekristenan dewasa ini.

Para mahasiswa merasa dicerahkan dan diperlengkapi dengan kegiatan pembelajaran itu. Mereka berharap bisa diadakan pertemuan-pertemuan lebih lanjut untuk pembekalan yang lebih mendalam lagi. Banyak pertanyaan mahasiswa belum sempat terjawab tuntas karena terbatasnya waktu.

SEMINAR DI STT GETSEMANI (30 SEPTEMBER 2009)

Pada 30 September 2009, H2CLS mengadakan seminar hukum untuk para mahasiswa STT Getsemani. Dalam kesempatan itu, H2CLS tampil bersama Drs. Soedomo Soenarjo (mantan Asekwilda I Daerah Istimewa Yogyakarta). Disamping memberikan pemahaman hokum, pandangan Alkitabiah berkenaan dengan masalah hukum, H2CLS membahas juga masalah-masalah politik berkenaan dengan Dasar Negara Pancasila.

Sebelum pemaparan dengan masalah hukum, terlebih dulu dibahas masalah kekristenan dan perubahan masyarakat Indonesia. Penekanannya adalah supaya para hamba Tuhan mempunyai wawasan yang luas, termasuk pengetahuan tentang masalah hukum. Dengan pemahaman itu, kita bisa berstrategi untuk membela hak-hak yang semestinya dijamin oleh Negara seperti hak untuk beribadah. Kecuali itu, para pemimpin Kristen bisa tampil menjadi agen-agen perubahan untuk pembangunan bangsa dan Negara, berdampak di dunia hokum.

Pemahaman hukum yang diberikan berkaitan dengan konsep-konsep dasar yang harus dipahami. Misalnya konsep mengenai “masyarakat hokum”, “perbuatan hokum”, “akibat hokum”, dan sebagainya. Dengan pemahaman tentang konsep-konsep itu para peserta seminar bisa memakainya untuk melakukan analisa tentang masalah-masalah hokum yang dihadapi dalam hidup dan pelayanan Kristen.

Seorang peserta seminar yang antusias menanyakan masalah hukum yang dihadapi dalam pelayanan. H2CLS memberikan arahan supaya pelayanan dilakukan dengan berhikmat dan juga berhati-hati. Sebab, meskipun maksud kita tulus, salah-salah kita bisa dituduh telah melakukan kristenisasi dan memaksa orang untuk masuk ke agama kita. Bisa-bisa dipenjara karena tuduhan-tuduhan seperti itu. Para hamba Tuhan juga harus menjalin hubungan baik dengan masyarakat.

Drs. Sudomo Sunaryo menyampaikan pesan supaya kita bersama berjuang untuk menjaga kelestarian Pancasila. Dasar Negara itu ibarat ”perjanjian pernikahan” yang jika dibuang atau diganti maka berarti membatalkan pernikahan itu sendiri. Jika kita mengganti Pancasila dengan dasar lain maka berarti kita merubah Negara Republik Indonesia. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa telah menjadi berkat tersendiri karena disamping sesuai dengan ajaran Kristen juga melindungi kekristenan di Indonesia.

Ada pula pertanyaan dari peserta yang menyinggung masalah penciptaan undang-undang yang bersifat politis. Ini merupakan masalah menarik sebab kenyataannya, peraturan perundangan di negeri ini seringkali merupakan kristalisasi dari kepentingan politik. Banyak undang-undang dan termasuk PERDA yang diciptakan untuk tujuan-tujuan kelompok-kelompok politis tertentu dan bukannya untuk kepentingan rakyat banyak. Itulah sebabnya harus ada anak-anak Tuhan yang tampil ke depan untuk turut bekerja dalam proses pembuatan peraturan-peraturan itu. Dalam hal inilah Gereja mengamalkan mandat pembangunan budaya seperti yang diperintahkan Tuhan sejak masa pra-dosa.


B. REKOMENDASI

December 4, 2009

BEBERAPA KOMENTAR….

Pdt. Yulius (Gembala Jemaat GSJA Kaloran, Temanggung). Seminar hukum H2CLS membekali pelayanan, menjadikan kami lebih mengerti tentang hukum yang berlaku di Indonesia. Seminar ini perlu sekali diberikan untuk hamba-hamba Tuhan di Indonesia.

Dinawati (Guru TK, Pontianak, Kalimantan Barat). Saya diberkati dengan seminar hukum H2CLS karena bisa mengerti perkembangan hukum yang ada di Indonesia. Hal itu sangat bermanfaat bagi pengembangan pelayanan dan penginjilan yang saya kerjakan. Kalau boleh waktu seminarnya dibuat lebih lama.

Maria Hexa (Staf PESAT Medan). Dengan seminar hukum H2CLS ini saya mengerti tentang peraturan perundang-undangan, khususnya UU tentang perlindungan anak karena pelayanan saya berkaitan dengan masalah anak-anak. Waktu seminar harus diperpanjang, jika perlu sehari full.

Maurince Mia Dara (Guru TK). Seminar hukum H2CLS sungguh bermanaat dalam pelayanan pendidikan Kristen. Seminar ini perlu diadakan di sekolah-sekolah Kristen!

Daniel Meta Kawiju (Pelayan Misi, Karangawen, Demak). Materi seminar H2CLS membuat saya mengetahui Undang-undang baru yang muncul. Materi ini sangat membantu saya dalam mengembangkan pelayanan agar dapat lebih cerdik dan bijak. Kita bisa melayani masyarakat dengan tanpa melakukan pelanggaran hukum. Seminar ini harus dilanjutkan untuk kalangan hamba-hamba Tuhan.

Heni Sri Sumaryati (Ibu Gembala Sidang, Temanggung). Seminar hukum H2CLS membuat saya mengerti gerakan-gerakan social, politik, dan keagamaan yang ada di Indonesia. Adakanlah seminar ini untuk hamba-hamba Tuhan / pendeta-pendeta.

Uli Idawati Gultom (Ibu Gembala). Dengan seminar hukum H2CLS saya lebih mengerti dan memahami hukum untuk waspada dan lebih bijaksana ketika berada dan melayani di tengah masyarakat. Seminar ini perlu dibuat sebagai “Seminar Sehari” atau seminar dengan durasi waktu yang lebih lama, khususnya untuk hamba-hamba Tuhan.

Anita Siswanto (penyanyi). Wew.. Fabulous..inspiring.. Dan sangat memotivasi anak2 Tuhan untuk more creative dlm pelayanan.. Penuangan dan realisasi ide2 dan kerjasama team yg solid..materi2 seminar yg memang sangat dibutuhkan tp kadang ga sadar itu jd kebutuhan.. Thx God untuk H2CLS yg membuat kami semakin mencintai Tuhan dan bangsa ini… Gud luck n blessings

Merina (Mahasiswa PESAT). Seminar hukum H2CLS sangat bagus sekali, membekali kami yang sering mengadakan pelayanan lintas agama. Siapa sich yang sangka, cuma ngajar Sekolah Minggu saja bisa masuk LP?

Dina Krisyani (Mahasiswa PESAT). Seminar hukum H2CLS sungguh mengesankan dan menegangkan.

Eny S. Maryanto (PESAT). Dengan seminar hukum H2CLS saya menjadi tahu tentang undang-undang yang berlaku di Indonesia dan saya menjadi bisa mensosialisasikan masalah hukum kepada sesama orang Kristen. Seminar ini harus terus diadakan supaya semakin banyak orang Kristen yang melek hukum.

Mardiyati Setyo Ningrum (Staf STAK Terpadu Pesat). Seminar hukum H2CLS membuat kami terbuka dengan hukum yang ada di Indonesia, mengetahui proses pembuatan dan pemberlakuan hukum. Seminar ini perlu dibuat dengan durasi yang lebih lama, misalnya menjadi ”seminar sehari”.

Mordekai (Pengajar STAK PESAT). Dengan seminar hukum H2CLS saya mengetahui undang-undang yang ada dan memahami gerak pemerintahan yang sedang berjalan. Seminar ini perlu diadakan dengan waktu yang lebih lama.

Agus Prasetyo (Guru, Temanggung). Dengan mengikuti seminar hukum oleh H2CLS maka pengetahuan saya tentang hukum bertambah.

Moris (Mahasiswa PESAT). Melalui seminar hukum H2CLS saya menjadi tahu banyak tentang hal-hal yang terselubung di pemerintahan.

Pardi (Guru). Melalui seminar H2CLS saya bertambah tahu tentang hokum di Indonesia dan bisa lebih berhati-hati menghadapi situasi bangsa kita.

Agustin Dwi W (Guru TK). Saya berterimakasih bisa mengikuti seminar hukum H2CLS karena membuat saya lebih terbuka terhadap hukum. Waktu seminar harus nambah.

L. Agneshia Valentina (Mahasiswa). Dari seminar H2CLS ada beberapa hal yang sangat menambah wawasan saya terutama berkaitan tentang hukum dan pelayanan Kristen.

Nelce Limbong (Mahasiswa). Saya sangat senang dengan adanya seminar H2CLS ini karena merupakan kali pertama mendengar tentang urgensi pemahaman hukum dalam pelayanan Kristen. Saya jadi lebih mengetahui hal-hal yang harus dilakukan kalau dalam pelayanan diperhadapkan dengan orang-orang yang menentang ajaran Kristen.

Eben (Mahasiswa PESAT). Dari seminar H2CLS saya mempunyai bekal untuk pelayanan masa depan. Saya juga mengetahui cara dan strategi PI serta akibat-akibat hukum dari PI.

Barnabas B. Ledi (Mahasiswa). Seminar hukum H2CLS dapat membuka wawasan tentang UUD 1945 dan peraturan perundangan lainnya, menambah semangat untuk melayani Tuhan.

Poniman (Pelayan Anak, Temanggung). Melalui seminar hukum H2CLS saya bisa mengerti hukum, mengembangkan kapasitas untuk melayani dalam hubungan lintas agama, dan mengerti sikap-sikap apa yang harus diambil sebagai orang Kristen yang hidup di tengah masyarakat. Seminar ini perlu diadakan lagi dengan durasi waktu lebih lama.

Yustina Denga (Mahasiswa PESAT). Seminar hukum H2CLS membangkitkan semngat saya untuk belajar hukum, membuat saya lebih mengerti tentang hukum.

Yumia Dapa Roka (Mahasiswa PESAT). Melalui seminar hukum H2CLS saya bersyukur karena saya mendapat pembekalan secara khusus tentang undang-undang, khususnya UU Perlindungan Anak. Dengan bekal itu saya ingin menjadi berkat bagi Indonesia.

Kornelis Kedu Tarra (Mahasiswa PESAT). Dengan seminar hukum H2CLS saya mendapat bekal pemahaman tentang undang-undang sehingga dapat lebih berhikmat dalam melayani dan memberitakan Injil.

Magdelena Magi Talo (Mahasiswa PESAT). Melalui seminar hukum H2CLS saya menjadi mengerti tentang hukum sehingga membekali pelayanan saya. Sebaiknya seminar ini dilakukan seminggu lebih supaya semakin banyak materi yang diberikan.

Eko Sugiyarto (Mahasiswa PESAT). Dengan seminar hukum H2CLS saya dapat mengerti hal-hal yang terselubung dalam sistem perundang-undangan di Indonesia.

Sunarti (Mahasiswa PESAT). Saya sangat diberkati dengan seminar hukum H2CLS. Materi-materinya sangat membekali dan akan saya bagikan lagi kepada yang lain.

Ani Sigit, M.Th. (Dosen STT Getsemani). Seminar hukum H2CLS perlu diadakan. Bahkan sebaiknya dikembangkan menjadi sebuah mata kuliah yang memperlengkapi para mahasiswa teologia Kristen.


C. INFO SEMINAR H2CLS

December 4, 2009

STANDAR KOMPETENSI

Seminar-seminar hukum yang diberikan oleh H2CLS pada dasarnya merupakan proses pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi. Artinya, para peserta diharapkan mempunyai kompetensi tertentu di bidang hukum setelah mengikuti seminar-seminar yang diadakan.

Mengenai kompetensi itu, dikembangkan sesuai dengan tahapan-tahapan dalam proses belajar, yaitu kemampan-kemampuan untuk (1) mengetahui, (2) memahami, (3) menerapkan, (4) menganalisa, (5) mensintesa, dan (6) mengevaluasi system pengetahuan tentang hukum dan kekristenan.

Dengan demikian seminar-seminar yang diadakan bisa diberikan menurut tingkatan-tingkatan itu, yaitu (1) tingkat dasar (elementary), mengembangkan kemampuan untuk mengetahui-memahami-menerapkan, (2) tingkat menengah (intermediate), mengembangkan kemampuan untuk menganalisa-mensintesa, (3) tingkat lanjut (advance), mengembangkan kemampuan evaluatif.

RAGAM SEMINAR

Karena begitu luasnya masalah hukum dan kekristenan maka H2CLS memberikan berbagai macam seminar hokum yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Beberapa topic seminar itu adalah sebagai berikut

  • KEKRISTENAN & HUKUM
  • PEMAHAMAN DASAR HUKUM
  • PERKAWINAN
  • PELAYANAN
  • PENGINJILAN
  • GEREJA
  • ORGANISASI KRISTEN
  • SEKOLAH KRISTEN
  • UNDANG-UNDANG
  • PERATURAN DAERAH (PERDA)
  • WANITA
  • BISNIS

SESUAI KEBUTUHAN

H2CLS melayani seminar hukum yang disesuaikan dengan kebutuhan kelompok Kristen (gereja, yayasan, sekolah, dll). Misalnya untuk gereja-gereja yang mengalami tekanan, H2CLS memberikan seminar yang sesuai dengan masalah yang dihadapi. Untuk sekolah-sekolah Kristen, H2CLS memberikan seminar tentang hokum dalam konteks pendidikan dan pendidikan Kristen.

KONTAK UNTUK SEMINAR

Untuk permohonan pelayanan seminar, bisa dikirim ke alamat sebagai berikut:

Kantor H2CLS: Jl. Kusumanegara, Tahunan UH 3/192 RT 10/RW 02 Yogyakarta 55167.

Fax (0274) 378 124

E-mail: hcnlawyer@yahoo.co.id; haryadibaskoro@yahoo.com


D. KEKRISTENAN & HUKUM

December 4, 2009

MASALAH HUKUM

Berbicara tentang masalah hukum, orang-orang percaya (orang Kristen, Gereja) mempunyai persoalan factual sebagai berikut.

  • HUKUM ROHANI.Tuhan adalah pembuat hukum rohani yang harus ditaati dan Kristus adalah Hakim pada akhir jaman, siapa percaya pada-Nya tidak akan dihukum.
  • HUKUM SEKULER. Orang Kristen adalah warga dunia dan pengubah dunia sehingga harus taat hukum, mengerti dan melakukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban hukum, serta bisa mencipta (membangun) hukum.

TUHAN = RAJA

Salah satu nama Tuhan kita adalah YEHOVAH MELEK (www.misteriyehovah.wordpress.com). Nama YEHOVAH MELEK menjelaskan bahwa Tuhan itu Raja (Melek). Menurut Towns (1995) kata Raja sebenarnya bukanlah suatu nama pribadi dari Allah, namun itu benar-benar merupakan salah satu di antara sebutan-Nya. Pemazmur memakai kata Raja itu sebagai sinonim untuk Allah (Mzm 5:3 – ”Ya Rajaku ya Allahku”). Pemazmur mengatakan bahwa Allah mempunyai kedudukan sebagai raja atau penguasa (Mzm 74:12 – ”ya Allah adalah Rajaku”).

Nama YEHOVAH MELEK mengandung implikasi yang menurut Towns (1995) adalah, Raja mempunyai kekuasaan legislatif yaitu membuat undang-undang. Hal itu berarti, kita harus mentaati hukum-hukum yang dibuat oleh Tuhan (perintah-perintah Firman Tuhan).

Kita harus tunduk kepada Tuhan sebab Dialah Raja kita. Towns (1995) mengatakan bahwa ungkapan ”Tuhan adalah/itu Raja” (Mzm 93:1) berarti Tuhan memerintah (reigneth) yang mengandung konsekuensi bahwa kita harus taat/tunduk pada pemerintahan-Nya.

PERCAYA YESUS = TIDAK DIHUKUM

Semua manusia adalah berdosa. Sehingga semua tidak ada yang dibenarkan, tidak ada yang bisa selamat dari hukuman kekal. Jika dan hanya jika manusia percaya kepada YESUS KRISTUS maka akan dibenearkan, ditebus dari hukuman, dan diselamatkan.

Keselamatan dari hukuman kekal di dalam YESUS itu adalah anugerah Tuhan seperti ada tertulis: ”Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

YESUS = HAKIM

Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan (Yud 14).

Semua orang berdosa. Sejak lahir sudah berdosa, apalagi ditembah berbagai-bagai dosa perbuatan yang dilakukan selama hidup. Jadi, semua manusia pasti akan dihukum. Manusia bisa lepas dari hukuman itu apabila bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Yaitu menerima-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.

Yesus sangat mengasihi orang berdosa. Karenanya Ia rela disalibkan, mati dan turun ke kerajaan maut. Itu dilakukan untuk menebus dosa manusia. Yesus senantiasa berempati kepada pendosa dalam rangka memperdemaikan manusia dengan Tuhan. Empati terhadap orang berdosa itu Dia ekspresikan saat meratapi Yerusalem, sambil menangisi kota itu Ia berkata, “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu. Sebab akan datang harinya, bahwa musuhmu akan mengelilingi engkau dangan kubu, lalu mengepung engkau dan menghimpit engkau dari segala jurusan, dan mereka akan membinasakan engkau beserta dengan pendudukmu dan pada tembokmu mereka tidak akan membiarkan satu batu pun tinggal terletak di atas batu yang lain, karena engkau tidak mengetahui saat, bilamana Allah melawat engkau” (Luk 19:41-44).

Kotbah Yesus di Bukit Zaitun tentang akhir jaman (Mat 24-25) pada dasarnya juga merupakan himbauan supaya manusia bertobat. Kotbah itu disampaikan-Nya dengan penuh belas kasihan. Kotbah itu diawali-Nya dengan ratapan terhadap Yerusalem, kata-Nya, “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.” (Mat 23:37).

Namun, lain sekarang lain nanti! Sekarang, Yesus adalah sosok Gembala Agung yang panjang sabar menghimbau pertobatan manusia. Adapun nanti, Yesus adalah Hakim yang akan tanpa kompromi memisahkan domba-domba-Nya dari kambing-kambing. Yesus akan menyatakan diri sebagai Raja dan Hakim yang penuh otoritas.

Bapa memberikan otoritas penuh kepada Yesus untuk menjalankan tugas penghakiman. Yohanes mengatakan, ”Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa” (Yoh 5:22-23). Kitab Wahyu mencatat bagaimana Yesus sebagai Hakim akan bertindak penuh kuasa tanpa mengenal kompromi lagi: ”Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi da Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa” (Why 19:15). Jauh-jauh hari, pemazmur sudah mengatakan, ”Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang perikuk” (Mzm 2:9).

Kita yang masih hidup sekarang harus bisa memahami Pribadi Yesus secara menyeluruh. Terkadang kita hanya melihat dari satu sisi saja, yaitu sosok Kristus yang lemah lembut, penuh belas kasihan, dan Mahapengampun. Karena itu kita sering hidup tidak benar dan tidak kudus dan tidak melaksanakan perintah-perintah-Nya. Pikir kita, ”Ah, tokh Yesus pasti mengampuni dan mengasihi kita, bukan?” Kita lupa bahwa Dia adalah Raja dan Hakim, Pembuat hukum yang tegas dan berlaku adil. Karena itu Tuhan sering menegur dan menghajar kita supaya kita bertobat (band. Why 3:19). Lebih baik dipukul Tuhan sekarang daripada dipukul dengan gada-Nya pada hari penghakiman di akhir jaman nanti. Kalau kita mau ditegur Tuhan sekarang dan kemudian bertobat lalu bertumbuh dalam kebenaran, Tuhan akan meluputkan kita dari hari penghakiman akhir yang mengerikan itu.

DUNIA = SISTEM HUKUM

Dunia sekarang pada dasarnya merupakan sistem kebudayaan di mana terdapat sistem norma (aturan) yang mengendalikan perilaku manusia. Jadi, dunia pada dasarnya merupakan sistem hukum. Masyarakat pada dasarnya merupakan ”masyarakat hukum”. Bahkan dalam masyarakat tradisional atau primitif pun ada hukum adat.

Bagaimana kualitas hukum sekuler ada di dunia menurut pandangan Alkitab. Pertama, terdapat juga kearifan dan kebijakan karena semua manusia menerima ”penyataan umum Tuhan” yang diberikan lewat alam dan sejarah (sedangkan penyataan khusus adalah melalui Yesus Kristus dan Alkitab, diterima hanya oleh orang percaya). Karena adanya ”penyataan umum” itu maka pada tingkat tertentu manusia dapat hidup arif. Bahkan dalam masyarakat primitif pun terdapat apa yang sekarang disebut sebagai kearifan lokal.

Kedua, di sisi lain, pada dasarnya semua manusia itu sudah jatuh dalam dosa. Manusia berdosa sudah rusak moralnya (total depravity). Karena itu, produk-produk hukum yang diciptakan manusia pada dasarnya tidak sempurna, bahkan tidak benar pula.

Ketiga, parahnya lagi, dunia sekarang masih diijinkan Tuhan berada di bawah kekuasaan iblis (1 Yoh 5:19; Ef 6:19). Dengan demikian manusia-manusia yang menciptakan dan menjalankan hukum sekuler ini berada di bawah pengaruh iblis. Karena itu produk-produk hukum yang ada seringkali berlawanan dengan Tuhan dan Firman-Nya.

KETAATAN KRISTEN

Meskipun dunia dan system hukumnya pada dasarnya bobrok, Tuhan tidak mengendaki anak-anak-Nya berlaku a-sosial. Orang Kristen jangan menjadi batu sandungan, maka harus pula taat hukum seperti ajaran Yesus supaya kita membayar pajak (Mat 17:27).

Sebagai warga negara dunia (disamping warga Kerajaan Sorga), orang Kristen harus taat pada pemerintah dan hukum-hukum yang dibuatnya (Rom 13:1-7). Prinsip penundukan diri ini pada dasarnya merupakan sikap kasih orang Kristen. Kita juga harus memberi keteladanan di tengah masyarakat. Namun, tentu ada waktunya kita lebih taat kepada Tuhan daripada taat kepada manusia. Ada waktunya, ketika pemerintah dan sistem hukum benar-benar anti Tuhan, kita lebih taat kepada Tuhan. Sebagai contoh adalah Daniel yang tetap menyembah Tuhan meskipun hukum pada waktu itu melarangnya. Ketaatan kepada Tuhan itu membuat dirinya dibela oleh Tuhan sendiri.

PERJUANGAN HUKUM ORANG KRISTEN

Orang Kristen harus memahami masalah-masalah kewarganegaraan (lihat www.christiancitizenship.wordpress.com). Kita harus memahami masalah hukum sehingga mengerti hak-hak dan kewajiban-kewajiban kita sebagai warga negara yang baik. Pada saat diperlakukan tidak adil, bila mengerti hak-hak maka kita bisa membela diri untuk mendapat keadilan hukum berdasar prinsip equality before law.

Paulus adalah contoh hamba Tuhan yang melek dan paham hukum sehingga bisa memperjuangkan hak-haknya. Ia pun diperhitungkan dan dihormati karena bisa membela diri secara hukum. Meskipun banyak aniaya dijalaninya dengan sukarela karena itu diyakininya sebagai kehendak Tuhan, Paulus tidak lantas menyerah begitu saja ketika diperlakukan dengan tidak adil. Kisah Para Rasul 22:23-29 merekam peristiwa pembelaan Paulus berdasar hukum sehingga ia tidak jadi diperlakukan tidak adil, lengkapnya sebagai berikut: Mereka terus berteriak sambil melemparkan jubah mereka dan menghamburkan debu ke udara. Karena itu kepala pasukan memberi perintah untuk membawa Paulus ke markas dan menyuruh memeriksa dan menyesah dia, supaya dapat dikertahui apa sebabnya orang banyak itu berteriak-teriak sedemikian terhadap dia. Tetapi ketika Paulus ditelentangkan untuk disesah, berkatalah ia kepada perwira yang bertugas: ”Bolehkan kamu menyesah seorang warganegara Rum, apalagi tanpa diadili?” Mendengar perkataan itu, perwira itu melaporkan kepada kepala pasukan, katanya: ”Apakah yang hendak engkau perbuat? Orang itu warganegara Rum.” Maka datanglah kepala pasukan itu kepada Paulus dan berkata: ”Katakanlah, benarkah engkau warganegara Rum?” Jawab Paulus: ”Benar!” Lalu kata kepala pasukan itu: ”Kewarganegaraan itu kubeli dengan harga yang mahal.” Jawab Paulus: ”Tetapi aku mempunyai hak itu karena kelahiranku.” Maka mereka yang harus menyesah dia, segera mundur; dan kepala pasukan itu juga takut, setelah ia tahu, bahwa Paulus, yang ia suruh ikat itu, adalah orang Rum.

Tetapi, sebagai anak Tuhan, kita harus mengandalkan PEMBELAAN TUHAN. Manakala jalur advokasi gagal, Tuhan bisa menolong secara ajaib. Saat Paulus dan Silas di penjara di Filipi, mereka tidak bisa membela diri untuk mendapatkan keadilan hukum. Maka mereka berdoa dan memuji Tuhan sehingga Tuhan berpenetrasi: terjadi gampa bumi hebat yang bukan hanya membuat mereka berdua bebas namun membuat orang-orang bertobat kepada Kristus. Ketika Yusuf difitnah dan dijebloskan ke penjara, tak seorang pun menolong. Namun Tuhan sendiri yang mengatur sedemikian rupa sehingga ia bukan hanya bebas namun bahkan ”terpental ke atas” menjadi orang nomor dua setelah Firaun di Mesir.

GEREJA = TRANSFORMATOR MASYARAKAT

Gereja dipanggil Tuhan untuk menjadi garam dan terang dunia. Sikap dan perilaku hukum anak-anak Tuhan harus memuliakan Tuhan. Ada banyak kasus anak Tuhan – bahkan hamba Tuhan – bercerai di pengadilan. Ini benar-benar memalukan, mendukakan Tuhan, dan mencemarkan kekristenan di masyarakat. Seharusnya, kita menjadi teladan. Dalam hal konflik misalnya, seringkali orang-orang Kristen, pemimpin-pemimpin Kristen, gereja-gereja, dan lembaga-lembaga Kristen tidak menjadi terang.

Padahal seharusnya, Gereja Tuhan (orang percaya) bukan hanya menjadi teladan namun menjadi pembangun dunia ini supaya menjadi lebih baik dan mengarah pada terang Kristus. Kita diberi mandat penginjilan (Amanat Agung) dan mandat pembangunan budaya (Kej 1:8). Gereja seharusnya berkontribusi untuk turut membangun sistem hukum di dunia ini supaya menjadi lebih baik, dijiwai oleh nilai-nilai kebenaran, dan diterangi oleh Firman Tuhan.

AGEN-AGEN PERUBAHAN

Pada era demokrasi, masyarakat (rakyat) mendapat kesempatan luas untuk turut secara aktif menciptakan hokum. Bahkan kalaupun sudah ada produk hokum yang keluar, masyarakat bisa melakukan peninjauan ulang melalui proses judicial review. Pers yang merupakan “pilar keempat demokrasi” menjadi jalan untuk menyalurkan opini public yang mempengaruhi proses penciptaan dan pelaksanaan hukum.

Dengan demikian, di era demokrasi ini, orang Kristen bisa secara aktif berkontribusi untuk menciptakan hukum. Karena itu para pemimpin Kristen harus berani bersuara, memberikan gagasan-gagasan, dan melancarkan control social. Saatnya Gereja menyampaikan suara kenabiannya.

Demikian juga anak-anak Tuhan yang bekerja di marketplace yang berhubungan dengan dunia hukum (misalnya yang menjadi hakim, jaksa, pengacara, politisi, anggota parlemen, kritikus, public opinion maker, pengamat, akademisi, ahli hokum, dst) harus menjadi agen-agen perubahan. Jangan hanya bekerja untuk mencari duit, harta, dan kekuasaan. Orang Kristen bekerja untuk berdampak di marketplace, yaitu turut membangun dan merubah system hokum supaya menjadi baik, menjadi diterangi oleh Firman Tuhan. Kita bekerja dengan visi illahi dan tujuan-tujuan illahi yang tidak sekedar tujuan untuk memuaskan perut sendiri!


E. PEMAHAMAN DASAR HUKUM

December 4, 2009

PRINSIP-PRINSIP BELAJAR

Masalah-masalah hokum yang sangat kompleks tidak mungkin bisa dipahami hanya dalam waktu yang singkat. Untuk menjadi seorang Sarjana Hukum saja harus menempuh sekian SKS dengan tugas-tugas yang sangat berat. Artinya, ketika seorang pendeta yang tidak pernah belajar hukum – karena di seminari juga tidak dipelajari – tidak mungkin menguasai masalah-masalah hukum secepat kilat.

Prinsipnya, proses belajar apa saja itu merupakan sebuah proses peningkatan bertahap dari kemampuan berpikir manusia. Menurut taksonomi Bloom, proses-proses belajar itu berkembang dari tahap mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisa, mensintesa, dan akhirnya mengevaluasi pengetahuan.

Pada tahap dasar, yaitu tahap “mengetahui”, diharapkan pebelajar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: (1) Apakah hukum itu? (2) Apakah perbuatan hukum itu? (3) Apakah akibat hukum itu? (4) Apa isi Undang-Undang Nomor 28? (5)Apa isi Pasal 29 UUD 1945?

Tahap berikutnya adalah tahap “memahami” di mana pebelajar mulai bisa menjelaskan hal-hal seperti (1) Apa hubungan antara “perbuatan hukum” dengan “akibat hukum”? (2) Apa perbedaan antara “Undang-undang Dasar” dan “Undang-Undang”? (3) Mengapa hukum harus ditaati? Dalam ujian esai, pebelajar diharapkan bisa memberi penjelasan ekspositoris dengan bahasa atau kata-kata sendiri, tidak sekedar menghafal.

Tahap selanjutnya adalah tahap “menerapkan”, misalnya memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan (1) Berikan contoh “perbuatan hukum”! (2) Berikan contoh “akibat hukum”! (3) Jelaskan bagaimana UUD 1945 menjamin HAM dan perbedaannya dengan praktek penegakan HAM di lapangan! (4) Jelaskan “perbuatan hukum” dan “akibat hukum” apa saja yang terjadi dalam kegiatan penginjilan! Di sini pebelajar bisa mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki untuk menjelaskan fakta-fakta yang terjadi.

Tahap lebih tinggi lagi adalah tahap “menganalisa” yang intinya adalah kemampuan memerinci masalah. Misalnya bisa menjawab beberapa contoh pertanyaan seperti (1) Apa saja masalah hukum yang dihadapi dalam kegiatan penginjilan? (2) Apa saja Undang-Undang yang terkait dengan masalah pendirian dan pembangunan gereja? (3) Apa saja yang menyebabkan Gereja-gereja Kristen diperlakukan tidak adil dalam praktek hukum di Indonesia?

Lebih tinggi lagi adalah kemampuan untuk “mensintesa” yaitu menjalin pengetahuan-pengetahuan yang ada menjadi sebuah keutuhan pengetahuan yang bersifat sistemik. Di sini pebelajar bisa menjelaskan korelasi factor-faktor atau korelasi multi factor. Misalnya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti (1) Bagaimana keterkaitan antara “perbuatan hukum” dengan “Undang-undang” yang berlaku? (2) Bagaimana SISTEM hukum di Indonesia dibangun? (3) Jelaskan kedudukan Gereja dalam sistem hukum di Indonesia!

Tahap yang paling tinggi adalah tahap “mengevaluasi” dalam hal mana pebelajar bisa menilai pengetahuan yang ada dan mengkritisinya untuk menciptakan pengetahuan baru yang lebih berkualitas. Pada tahap advance ini pebelajar sudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti (1) Apakah penegakkan hukum di Indonesia sudah bagus? (2) Apakah Undang-undang Pornografi sudah tepat untuk diterapkan di Indonesia? (3) Bagaimana pandangan Alkitab tentang penegakkan hukum di Indonesia? (4)Apakah teori-teori hukum sekarang sudah valid?

Dengan demikian seminar-seminar H2CLS diberikan menurut tingkatan-tingkatan pembelajaran itu, yaitu (1) tingkat dasar (elementary), mengembangkan kemampuan untuk mengetahui-memahami-menerapkan, (2) tingkat menengah (intermediate), mengembangkan kemampuan untuk menganalisa-mensintesa, (3) tingkat lanjut (advance), mengembangkan kemampuan evaluatif.

SELAYANG PANDANG PEMAHAMAN DASAR TENTANG HUKUM

Oleh : Hedy Christiyono Nugroho, S.H.

Kita sadari atau tidak dalam melakukan aktifitas sehari-hari akan selalu bersinggungan dengan hukum. Dari sejak kita bangun tidur di pagi hari sampai kita tidur  lagi di malam  hari. Contoh: ada aturan dalam keluarga, aturan berkendara dijalan umum, saat kita berstudy di kampus dll.

Pengertian hukum itu sangat banyak yang dikemukakan oleh para ahli hukum ,salah satunya saja menurut J.C.T. Simorangkir, hukum adalah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan – badan resmi yang berwajib, pelanggaran terhadap peraturan tadi berakibat  diambilnya tindakan, dengan hukum tertentu. Dari berbagai pendapat yang ada dapat disimpulkan bahwa hukum pada dasarnya adalah

  • peraturan tingkah laku manusia
  • yang diadakan oleh badan-badan resmi yang berwajib
  • yang bersifat memaksa, harus dipatuhi
  • dan memberikan sanksi tegas bagi pelanggar peraturan tersebut (sanksi itu pasti dan dapat dirasakan nyata bagi yang bersangkutan).

Jadi ciri-ciri Hukum  adalah

  • Adanya perintah atau larangan
  • Larangan dan atau perintah itu harus dipatuhi/ditaati orang
  • Adanya sanksi hukum yang tegas.

Itulah mengapa kita perlu untuk mengetahui dan memahami hukum, yang salah satunya melalui pemahaman dasar tentang pengertian pokok berhubungan dengan hukum dalam aktifitas kita sehari-hari. Pengertian pokok yang perlu kita pelajari itu antara lain. Keterangan lebih lengkap lihat J.B. Daliyo, SH, Pegantar Ilmu Hukum (Jakarta: Gramedia,1989) hal 96 –105.

  • Masyarakat Hukum
  • Subyek Hukum
  • Objek Hukum
  • Peristiwa Hukum
  • Perbuatan Hukum
  • Hubungan Hukum
  • Akibat Hukum
  • Peranan Hukum

Mari kita pelajari secara singkat setiap bagian tersebut diatas supaya kita bisa memahaminya lebih lanjut.

Masyarakat Hukum

Masyarakat hukum adalah sekelompok orang yang berdiam dalam suatu wilayah tertentu di mana di dalam kelompok tersebut berlaku serangkaian peraturan yang menjadi pedoman tingkah laku bagi setiap anggota kelompok dalam pergaulan hidup mereka. Peraturan-peraturan itu dibuat oleh kelompok itu sendiri dan berlaku bagi mereka sendiri. Contoh: Masyarakat hukum adat di Indonesia

Subyek Hukum

Subyek hukum adalah sesuatu yang menurut hukum dapat memiliki dan kewajiban. Jadi subyek hukum adalah pendukung hak dan kewajiban, maka ia memiliki kewenangan untuk bertindak menurut hukum. Yang dapat menjadi subyek hukum adalah (1) manusia/orang – natuurlijke persoon, (2) badan hukum – recht persoon.

Orang sebagai Subjek hukum mempunyai kewenangan untuk menjalankan kewajiban dan menerima haknya. Seseorang dinyatakan wenang untuk melakukan tindakan hukum apabila, (1) telah dewasa, (2) sehat rohani dan jiwanya, tidak ditaruh di bawah pengampunan. Perlu diingat bahwa seseorang yang wenang hukum belum tentu cakap hukum. Contoh: orang gila, dia berwenang tapi tidak cakap hukum. Seseorang dianggap cakap melakukan tindakan hukum apabila ia cakap untuk mempertanggungjawabkan sendiri segala tindakan-tindakannya. Jadi untuk dianggap cakap harus memenuhi 2 syarat diatas, dewasa  dan sehat rohani dan jiwanya.

Badan hukam adalah suatu badan atau wadah yang memenuhi syarat tertentu sesuai aturan hukum. Badan hukum dibedakan menjadi 2, yaitu (1) Badan Hukum Publik yaitu badan hukum yang didirikan dan diatur menurut hukum publik, cotohnya desa, kotamadya, provinsi, dan negara, (2) Badan Hukum Perdata yaitu badan hukum yang didirikan dan diatur menuruthukum perdata, contohnya perseroan terbatas (PT), koperasi, yayasan, gereja (badan hukum perdata Eropa), gereja Indonesia, masjid, wakaf, koperasi di Indonesia. Badan hukum sebagai subyek hukum wenang melakukan tindakan hukum yang diwakili oleh pengurusnya contoh: jual beli, mengadakan perjanjian dll.

Objek Hukum

Obyek hukum adalah segala sesuatu yang dapat berguna bagi subyek hukum dan dapat menjadi pokok suatu hubungan hukum yang dilakukan oleh subyek-subyek hukum. Obyek hukum biasanya dinamakan benda atau hak yang dapat dimiliki dan dikuasai oleh subyek hukum.

Menurut  Pasal 503 KUH Perdata, benda dibedakan, (1) benda berwujud, yaitu segala sesuatu yang dapat dilihat dan diraba dengan indera manusia seperti rumah,tanah, mobil, (2) benda tidak berwujud yaitu semua hak seperti hak cipta, hak atas merk, dll.

Menurut Pasal 504 KUH Perdata, benda dibedakan menjadi: (1) benda bergerak, (2) benda tidak bergerak.

Benda bergerak dibedakan menjadi : (1) benda yang bergerak sendiri, yaitu hewan, (2) benda yang dapat dipindahkan, misalnya meja, kursi, (3) benda yang bergerak karena penetapan undang-undang, yaitu hak pakai, bunga yang dijanjikan.

Benda yang tidak bergerak dibedakan, (1) benda tidak bergerak karena sifatnya, yaitu tanah atua rumah, (2) benda tidak bergerak karena tujuannya, misalnya gambar, kaca, alat percetakan di gedung percetakan, (3) benda tidak bergerak karena penetapan undang-undang, misalnya hak pakai, hak numpang, dan hak usaha.

Peristiwa Hukum

Peristiwa hukum adalah peristiwa kemasyarakatan yang membawa akibat yang diatur oleh hukum. Misalnya, (1) peristiwa perkawinan pria-wanita, menimbulkan akibat berupa hak dan kewajiban suami-istri, (2) peristiwa kematian, menimbulkan akibat hukum berupa penetapan pewaris dan ahli waris (bidang hukum perdata), tapi kalau kematian akibat dibunuh maka meninbulkan akibat hukum bagi pembunuhnya, dipenjarakan (bidang hukum pidana), (3) peristiwa jual beli barang, menimbulkan hak dan kewajiban bagi si penjual dan si pembeli.

Peristiwa hukum dibedakan menjadi 2, (1) peristiwa hukum karena/akibat perbuatan subyek hukum, misalnya peristiwa tentang pembuatan surat wasiat, penghibahan barang. (2) peristiwa hukum yang bukan karena perbuatan subyek hukum, misalnya karena kematian seseorang, kelahiran seseorang dan karena kadaluwarsa / lewat waktu
(kedaluwarsa aquisitief = kadaluwarsa yang menimbulkan hak contoh penggadaian; kadaluwarsa extinctief = kadaluwarsa yang melenyapkan kewajiban contoh sewa menyewa rumah).

Perbuatan Hukum

Perbuatan hukum adalah perbuatan atau tindakan subyek hukum yang dapat menimbulkan suatu akibat hukum yang dikehendaki oleh pelaku. Misalnya tindakan mengadakan perjanjian sewa menyewa rumah akan menimbulkan hak dan kewajiban bagi para pihak..

Perbuatan hukum dibedakan menjadi: (1) perbuatan hukum bersegi satu atau sepihak, misalnya subyek hukum memberi surat wasiat, (2) perbuatan hukum bersegi dua atau timbal balik, misalnya mengadakan perjanjian sewa menyewa rumah, (3) perbuatan hukum bersegi banyak, misalnya perjanjian yang banyak pihak terlibat di dalamnya.

Hubungan Hukum

Hubungan hukum adalah hubungan antara subyek hukum yang diatur oleh hukum. Isinya adalah hak dan kewajiban masing-masing pihak. Misalnya dalam sewa menyewa rumah. Hubungan hukum dibedakan menjadi 2, (1) hubungan hukum sepihak, yaitu hubunangan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak secara berlawanan, misalnya kasus penghibahan atas tanah dari orangtua angkat kepada anak angkatnya, (2) hubungan hukum timbal balik, yaitu hubungan hukum yang dapat menimbulkan hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak bersangkutan, misalnya perjanjian jual beli sebidang tanah.

Akibat Hukum

Akibat hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh peristiwa hukum. Misalnya, timbulnya hak dan kewajiban bagi si pembeli dan penjual rumah adalah akibat dari perbuatan hukum jual beli rumah antara pemilik dan pembeli. Pencuri yang dihukum pidana penjara akibat dari mengambil barang orang lain tanpa hak atau melawan hukum.

Peranan Hukum

Hukum mempunyai peranan yang sangat besar dalam pergaulan hidup di tengah-tengah masyarakat, hal itu dapat kita lihat dari ketertiban, ketentraman dan tidak terjadi ketegangan dalam masyarakat karena fungsi hukum mengatur, menentukan hak dan kewajiban serta melindungi kepentingan individu dan kepentingan sosial. Jadi hukum harus mampu mewujudkan tentang keadilan, kegunaannya bagi kepentingan sosial, dan kepastian hukum yang umum sifatnya.

Masih banyak lagi yang para Hamba Tuhan perlu mengetahui dan memahami seluk beluk hukum yang berlaku di negara kita, sebagai bekal dalam pelayanan penggembalaan jemaat  dan/ atau penginjilan. Mengingat sekarang ini begitu banyaknya produk hukum berupa undang-undang/ peraturan daerah yang telah dihasilkan oleh Lembaga Legislatif, baik ditingkat pusat maupun daerah. Serta hukum itu menyangkut atau berhubungan dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian para hamba Tuhan dapat dengan tulus namun cerdik menyikapi hukum yang salah satunya berupa undang- undang /peraturan daerah sehingga dapat terhindar dari jerat hukum. Hal-hal apa yang perlu dicermati dan bagaimana mengantisipasinya pada kesempatan lain kita akan pelajari. Semoga  materi sederhana ini bisa bermanfaat memberikan sedikit pengetahuan tentang hukum. Tuhan Yesus memberkati.


F. PERNIKAHAN

December 4, 2009

PENGANTAR UNTUK SEMINAR “TINJAUAN ALKITAB & HUKUM TENTANG PERNIKAHAN”

PERINTAH TUHAN TENTANG PERNIKAHAN

Menikah adalah kehendak Tuhan. Hal itu sudah dinyatakan sejak awal. Allah memberkati mereka lalu Allah berfirman kepada mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu….” (Kej 1:28). Firman-Nya, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan istrinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu” (Kej 2:24-25).

Yesus menekankan kembali perintah pernikahan itu sambil menegaskan tentang keutuhan pernikahan dan larangan perceraian. Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mat 19:5-6).

LARANGAN UNTUK BERCERAI

Alkitab sangat jelas mengajarkan larangan untuk bercerai. Pada jaman Perjanjian Lama perceraian memang diatur sedemikian rupa dalam hokum Taurat (Ul 24:1-4). Namun itu sebenarnya bukan kehendak Tuhan yang ideal, itu karena ketegaran bangsa Israel sehingga Musa mengatur soal perceraian tersebut. Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (Mat 19:8).

Mengenai perceraian, Yesus jelas melarangnya! Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mat 19:5-6).

CERAI DAN KAWIN LAGI = PERZINAHAN

Injil mencatat demikian: Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan istrinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah (Mat 19:9)

Dengan membandingkan ucapan Yesus dalam Matius 5:32 dengan Matius 19:3-12, Markus 10:2-12, dan Lukas 16:18 nampak bahwa Yesus mencap perceraian dan kawin kembali sebagai dosa perzinahan (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, 1996, hal 157).

Dari ayat 9 dari Injil Matius 19, meskipun masih diperdebatkan, disimpulkan bahwa alasan zinah boleh dijadikan dasar untuk bercerai. Meskipun demikian substansi dari hal itu tidak dinyatakan dalam Injil Markus dan Injil Lukas. Yang jelas, kawin lagi itu sama dengan perzinahan itu sendiri. Dari sini sebetulnya dapat disimpulkan bahwa TUHAN SAMA SEKALI TIDAK MENGHENDAKI PERECERAIAN.

Dalam Injil Markus dijelaskan dengan gamblang oleh Yesus bahwa cerai dan kawin lagi itu sama dengan dosa perzinahan. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Barangsiapa menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap istrinya itu. Dan jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah” (Mrk 10:11-12). Jadi, APAPUN ALASANNYA, BERCERAI DAN KAWIN LAGI SAMA DENGAN BERZINAH.

Bagaimana jika perceraian dan pernikahan lagi itu terjadi sebelum seseorang menjadi Kristen (lahir baru)? Dengan mengacu pada surat 1 Kor 6:9, 11 disimpulkan bahwa seorang yang baru percaya, yang sebelumnya bercerai dengan alasan-alasan yang sah atau tidak, dan yang sudah menikah lagi, tidak dapat kembali kepada pasangannya semula, dan pernikahan kedua tidak dapat dicap sebagai perzinahan (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid II, 1996, hal 158).

LARANGAN UNTUK MENIKAH DENGAN ORANG BERBEDA IMAN

Firman Tuhan tegas melarang kita untuk menikah dengan orang yang tidak percaya: ”Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat beratu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tidak percaya” (2 Kor 6:14).

STRUKTUR KELUARGA

Alkitab menegaskan tentang penegakan struktur illahi di dalam sebuah keluarga Kristen. Paulus menegaskan bahwa suami (ayah) adalah kepala (imam) dalam keluarga: “Hai istri tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu” (Ef 5:22-24).

Implikasinya, di dalam pelayanan – menurut beberapa penafsir – seorang wanita tidak boleh menjadi pemimpin sebab hal itu akan melanggar aturan struktur illahi tersebut. Paulus sendiri juga mengatakan demikian, yaitu pemimpin jemaat haruslah seorang pria/suami (1 Tim 3:3, 4 – seorang suami dari satu istri, seorang kepala keluarga; 1 Tim 3:12 – diaken haruslah suami dari satu istri….).

Namun, struktur illahi dengan kepemimpinan pria itu tidak boleh menjadi jalan untuk mengeksploitasi kaum perempuan (istri). Struktur itu justru harus menjadi jalan bagi kaum pria (suami) untuk mengasihi, mengasuh, dan memuliakan istrinya. Paulus menegaskan: “Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi  jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yangs serupa dengan itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasihinya dan merawatinya sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya” (Ef 5:25-30).

STATUS (STATUS) DAN PERAN (ROLE) DALAM KELUARGA

Tuhan juga mengatur masalah kedudukan (status) dan peran (role) sehingga keluarga Kristen menjadi sebuah unit sosial yang berkenan dan efektif bagi Tuhan.

Kedudukan dan peran seorang suami (ayah) adalah sebagai berikut

  • Menjadi kepala keluarga, pemimpin bagi istri dan anak-anaknya (Ef 5:22-24). Hal itu berarti seorang suami menjadi pemimpin dalam hal rohani dan kehidupan.
  • Mengayomi dan menghidupi istri dan anak-anaknya (1 Tim 3:12). Termasuk bekerja atau mencari rezeki (band. Kej 3:17-18)
  • Mengasihi istri seperti Yesus mengasihi jemaat (Ef 5:25-30). Ini menjadi dasar tidak boleh terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT). Ini juga menjadi dasar untuk memberi penghargaan kepada kaum perempuan. Bahwa kepemimpinan  kaum pria tidak berarti peminggiran terhadap kaum wanita.

Kedudukan dan peran seorang istri adalah sebagai berikut

  • Mendukung dan tunduk kepada suami, melayani suami (Ef 5:22-24).
  • Melahirkan dan membesarkan anak sebagaimana kodratnya (band. Kej 3:16)

Berdasarkan struktur illahi di atas, suami dan istri bisa bekerja bersama, bahu membahu, untuk mengembangkan kehidupan dan pelayanan.

  • Keluarga menjadi satu unit ekonomi – seperti Akwila dan Priskila
  • Keluarga menjadi satu unit pelayanan, suami istri menjadi pasangan hamba Tuhan
  • Seorang wanita (istri) bisa dipakai Tuhan secara luar biasa dengan peng-cover-an suaminya. Hal itu terlihat dari bagaimana Maria menjadi hamba Tuhan dengan tugas yang sangat besar, yaitu melahirkan dan membesarkan Sang Mesias. Di dalam ”pelayanan” itu, Maria tidak sendirian, tetapi menjalaninua dengan peng-cover-an sang suami, Yusuf. Supaya, dengan pengayoman suami itu, struktur illahi tidak dilanggar.

KETERTIBAN DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT

Ketika manusia masih hidup primitive, tidak ada hokum yang mengatur masalah perkawinan-pernikahan. Kala itu disebut sebagai jaman promiskuitas (promiscuity) di mana terjadi hubungan seksual bebas antar manusia (Promiscuous:having or characterized by many transient sexual relationships – Concise Oxford English Dictionary).

Di dalam “masyarakat hukum”, pernikahan pada dasarnya merupakan sebuah “peristiwa hukum” yaitu peristiwa kemasyarakatan yang membawa akibat yang diatur oleh hukum. Dalam peristiwa perkawinan pria-wanita, menimbulkan akibat hukum berupa hak dan kewajiban suami-istri. Itulah sebabnya Negara mengatur dengan peraturan-peraturan perundangan tertentu.

Adapun orang Kristen adalah warga Sorga dan sekaligus warga Negara di dunia yang diperintahkan Tuhan untuk taat kepada hokum (Rom 13:1-7). Karena itu kita tidak boleh cuek dan masa bodoh dengan hukum yang ada. Misalnya, untuk menikah kita harus melalukan proses pencatatan sipil, dan sebagainya.

Namun, Hukum Tuhan (Firman Tuhan) harus lebih kita pegang daripada hokum positif yang ada. Sebagai contoh, meskipun menurut hukum positif kita diperboleh bercerai, namun sebagai anak-anak Tuhan kita tidak akan bercerai karena Firman Tuhan (Hukum Tuhan) melarangnya. Pada jaman Yesus, hukum Yunani dan Romawi mengatakan bahwa istri boleh saja menceraikan suaminya seperti Herodias menceraikan suaminya yang pertama. Namun dalam siatusi hukum seperti itu Yesus tetap menegakkan Hukum Tuhan tentang larangan keras untuk bercerai!!!!


G. PELAYANAN

December 4, 2009

PENGANTAR UNTUK SEMINAR “TINJAUAN ALKITAB & HUKUM TENTANG PELAYANAN-PELAYANAN KRISTEN”

DIMENSI SOSIAL PELAYANAN KRISTEN

Pelayanan Kristen pada dasarnya terus berkembang dengan keberagamannya. Dalam bab ini hanya akan dibahas tentang pelayanan pujian-penyembahan (ibadah) dan pelayanan pendidikan (pemuridan) di dalam gereja. Sedangkan kepemimpinan Kristen yang dibahas adalah kepemimpinan yang terkait dengan urusan internal (ke dalam lingkup masyarakat Kristen, gereja) dan urusan eksternal (ke luar, ke masyarakat luas).

Untuk mendefinisikan konsep pelayanan Kristen perlu dikaitkan dengan fungsi gereja. Menurut Chris Marantika, fungsi gereja mencakup tiga hal. Pertama fungsi rohani, yaitu ibadah, pemuaan, pujian, dan doa. Kedua, fungsi ke dalam yaitu persekutuan, pendidikan, pembinaan, dan pendisiplinan para anggota. Ketiga, fungsi ke masyarakat, yaitu penginjilan, pelayanan, pengajaran, dan peneguran.

Menurut Peter Wagner, pelayanan Kristen mencakup kegiatan rohani yang sangat luas karena mencakup kemampuan-kemampuan yang diberikan Tuhan supaya orang-orang Kristen (anggota gereja) bisa memberi kontribusi bagi pembangunan kehidupan rohani jemaat (2000, hal 11). Wagner mengidentifikasi minimal ada 27 karunia rohani yang berarti bisa mengembangkan minimalnya 27 jenis pelayanan (belum termasuk pelayanan-pelayanan yang bersifat gabungan, kombinasi, atau modifikasi). Beberapa bentuk pelayanan itu antara lain pelayanan mengajar, pelayanan nubuat, pelayanan memberi nasihat (konseling dan sejenisnya), pelayanan membagi berkat (bantuan sosial), pelayanan pendidikan (pengetahuan), pelayanan penyembuhan illahi, pelayanan doa mujizat, pelayanan kerasulah, pelayanan pemberian pertolongan, pelayanan administrasi (kepengurusan, organisasi), pelayanan penggembalaan (pembinaan umat), pelayanan menjadi misionaris, pelayanan doa syafaat, pelayanan pengusiran setan (pelepasan), dan sebagainya.

Dalam aktifitas kegerejaan, pelayanan Kristen lazim disebut sebagai ministry (ministries). Ministry diartikan sebagai pekerjaan atau kegiatan keagamaan yang dalam konteks Kristen merupakan bentuk pelayanan yang diberikan gereja. Menurut Concise Oxford English Dictionary, ministry is the work, vocation, or office of a minister of religion. spiritual service to others provided by the Christian Church. Karena itu berkembanglah berbagai istilah seperti worship ministry (pelayanan ibadah/penyembahan), teaching ministry (pelayanan pengajaran), prayer ministry (pelayanan doa), deliverance ministry (pelayanan pelepasan/pengusiran setan), pastoral ministry (pelayanan penggembalaan/pembinaan umat/jemaat). Bahkan sekarang ada istilah creative ministry (pelayanan kreatif yang biasanya menunjuk pada pelayanan anak-anak muda yang bersifat kreatif).

Meskipun pelayanan-pelayanan itu berhubungan dengan hal-hal rohani yang bersifat ”vertikal” (berkaitan dengan hal ketuhanan), pastilah mempunyai dimensi sosial (horizontal, hubungan antar manusia). Hal itu terjadi karena setiap pelayanan tersebut berkaitan dengan pembinaan dan penggalanga aktifitas umat (jemaat).

Dengan demikian, setiap pelayanan Kristen mempunyai aspek sosiologis dan berkaitan dengan masalah-masalah sosial. Hal itu yang di satu terkadang kurang diperhatikan oleh orang-orang Kristen. Mereka hanya memikirkan aspek kerohaniannya saja. Namun di sisi lain aspek-aspek sosial dari pelayanan itulah yang sering dimanfaatkan orang-orang Kristen untuk mencapai tujuan-tujuan dan kepentingan-kepentingan tertentu yang ”tidak rohani”

BERURUSAN DENGAN HUKUM

Dimensi sosial pelayanan Kristen menyebabkan kita senantiasa bersinggungan dengan masalah-masalah hukum. Misalnya adalah pelayanan-pelayanan sebagai berikut

  • Untuk mendirikan dan mengembangkan majalah Kristen misalnya, harus ada ijin, harus ada SIUP, dan memahami aturan-aturan dalam UU Pers.
  • Untuk mendirikan dan mengembangkan radio atau televisi Kristen juga harus ada ijin-ijin dan aturan-aturam perundangan yang harus diikuti.
  • Untuk mengembangkan pelayanan online berbasis internet, sekarang sudah ada Undang-Undang ITE
  • Untuk mengembangkan pelayanan-pelayanan Kristen yang bersifat sosial-kemanusiaan juga harus mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.